Www ifaupdatenews com
Barru, 30 April 2026 — Suasana berbeda kini terasa di lingkungan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Barru, Sulawesi Selatan. Di balik tembok pembatas yang selama ini identik dengan pembinaan tertutup, hadir sebuah inovasi menarik berupa coffee shop bernama “Sipakatau” yang dikelola langsung oleh Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Kehadiran coffee shop ini bukan sekadar pelengkap fasilitas, melainkan bagian dari strategi pembinaan yang dirancang untuk mendorong kemandirian dan keterampilan para warga binaan. Kepala Rutan Barru, Hardiman, mengungkapkan bahwa program tersebut menjadi langkah nyata dalam mengubah paradigma pemasyarakatan ke arah yang lebih produktif dan humanis.
Dalam kesempatan wawancara pada Rabu siang (28/4) sekitar pukul 12.00 WITA, Hardiman menjelaskan bahwa coffee shop ini dirancang sebagai ruang pembinaan berbasis keterampilan sekaligus sarana interaksi yang lebih cair antara WBP dan petugas.
Pengelolaan coffee shop “Sipakatau” sendiri dipercayakan kepada Yusril, staf keamanan yang turut membimbing para warga binaan dalam menjalankan operasional usaha tersebut. Ia menegaskan bahwa program ini memiliki tujuan ganda, yakni membekali WBP dengan keterampilan praktis sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang positif di dalam rutan.
“Coffee shop ini bukan hanya tempat minum kopi. Ini adalah sarana pembinaan kemandirian, di mana warga binaan dilatih menjadi barista, memahami manajemen pelayanan, hingga belajar mengelola usaha secara sederhana. Harapannya, mereka memiliki bekal nyata ketika kembali ke masyarakat,” ujar Yusril.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa program ini juga menyentuh aspek psikologis warga binaan. Melalui aktivitas produktif, mereka didorong untuk membangun kembali rasa percaya diri serta motivasi hidup yang lebih baik. Kesempatan ini menjadi bentuk kepercayaan sekaligus ruang pembuktian bahwa mereka mampu berkarya secara positif.
Selain berdampak bagi WBP, keberadaan coffee shop ini juga memberi manfaat bagi pegawai rutan. Tempat tersebut menjadi ruang alternatif untuk berkoordinasi secara informal, mempererat komunikasi, serta menjadi area relaksasi di tengah rutinitas kerja yang padat.
“Di sini pegawai bisa coffee morning, berdiskusi santai, sekaligus menikmati hasil karya warga binaan. Ini membangun hubungan yang lebih humanis dan saling menghargai,” tambahnya.
Secara keseluruhan, inovasi coffee shop “Sipakatau” menjadi simbol perubahan wajah pemasyarakatan. Rutan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai tempat menjalani hukuman, melainkan sebagai ruang pembinaan yang memberikan harapan, keterampilan, dan kesempatan kedua.
Di akhir kunjungan, suasana hangat terasa saat menikmati kopi hitam dan kopi susu racikan warga binaan. Cita rasanya tak kalah dengan coffee shop pada umumnya, menjadi bukti bahwa di balik keterbatasan, kualitas dan dedikasi tetap bisa dihadirkan.
Program ini diharapkan terus berkembang dan menjadi contoh bagi lembaga pemasyarakatan lainnya dalam menghadirkan pembinaan yang inovatif, produktif, dan berorientasi pada masa depan warga binaan.
Pewarta ifa
