JAKARTA | Ifaupdatenews com — Saiful Huda Ems (SHE), seorang lawyer dan aktivis ’98 yang dikenal produktif menulis esai-esai hukum dan politik, kembali menyampaikan pandangan kritisnya mengenai dinamika politik dan hukum di Indonesia.
Melalui pernyataannya, SHE menyoroti persoalan pendidikan politik dan hukum di tengah masyarakat, sekaligus mengkritik fenomena jaringan buzzer yang menurut pandangannya telah berkembang di berbagai wilayah Indonesia.
SHE menilai, perjuangan memberikan pendidikan politik dan hukum kepada masyarakat membutuhkan proses panjang. Namun, menurut dia, upaya tersebut justru menghadapi tantangan ketika ruang publik dipenuhi narasi yang tidak dibangun berdasarkan pengetahuan politik dan hukum yang memadai.
“Para pejuang di negeri ini capek-capek memberikan pendidikan politik dan hukum pada masyarakat, namun Jokowilah yang malah merusaknya dengan membangun jaringan buzzer di seluruh Nusantara,” ujar SHE dalam pernyataannya.
Ia melanjutkan, persoalan yang menjadi sorotannya bukan semata-mata mengenai keberadaan buzzer, melainkan juga kualitas argumentasi yang digunakan dalam perdebatan politik di ruang publik.
Menurut SHE, pihak-pihak yang ia kritik tidak dibekali pengetahuan politik dan hukum yang mumpuni, tetapi lebih banyak menggunakan kalimat-kalimat singkat yang menurutnya kasar serta tidak disertai argumentasi rasional.
“Mereka tidak dibekali dengan pengetahuan politik dan hukum yang mumpuni, melainkan hanya dibekali dengan kalimat-kalimat singkat yang kasar, nol argumen rasional,” tegasnya.
Kritik Tajam terhadap Jokowi
Dalam pernyataan yang sama, SHE kemudian melontarkan kritik keras terhadap Joko Widodo. Ia bahkan menggunakan istilah “penjahat politik kelas kakap” dan menyatakan bahwa Jokowi harus segera diproses secara hukum.
Pernyataan tersebut merupakan tudingan dan pandangan politik SHE. Narasi ini tidak menyatakan tuduhan tersebut sebagai fakta hukum yang telah terbukti.
“Jokowi merupakan penjahat politik kelas kakap yang harus segera dipenjarakan,” kata SHE.
SHE kemudian mengaitkan kritiknya dengan apa yang ia nilai sebagai tindakan politik yang berdampak terhadap demokrasi dan peradaban. Ia juga menyinggung adanya indikasi korupsi yang menurutnya perlu menjadi perhatian.
“Bukan hanya karena kejahatan politiknya yang merusak demokrasi dan peradaban, melainkan juga terlalu banyaknya indikasi korupsi yang dilakukannya!” lanjut SHE.
Lawyer dan Aktivis ’98 yang Produktif Menulis
Sebagai lawyer sekaligus aktivis ’98, SHE selama ini menempatkan isu hukum dan politik sebagai bagian penting dalam tulisan maupun pandangan yang disampaikannya.
Produktivitasnya dalam menulis esai hukum dan politik menjadi salah satu cara SHE menyampaikan gagasan serta kritik terhadap berbagai persoalan yang berkembang di ruang publik.
Bagi SHE, kritik politik tidak cukup hanya disampaikan melalui pernyataan singkat. Menurutnya, masyarakat membutuhkan argumentasi, pengetahuan hukum, serta keberanian untuk menguji setiap persoalan secara rasional.
Karena itu, dalam pernyataannya kali ini, SHE tidak hanya menyoroti fenomena buzzer, tetapi juga menghubungkannya dengan kualitas diskursus politik dan hukum yang berkembang di masyarakat.
Nyatakan Tetap Melawan Lewat Jalur Politik dan Hukum
SHE juga menyatakan bahwa dirinya tidak akan berhenti menyuarakan kritik. Ia mengaku siap melakukan perlawanan melalui jalur politik maupun hukum terhadap apa yang disebutnya sebagai berbagai tindakan yang dilakukan Jokowi.
“Sebagai bagian dari rakyat yang masih bisa berpikir waras, saya bersumpah untuk terus menerus memberikan perlawanan politik maupun hukum, terhadap berbagai tindakan biadab Jokowi ini, apapun risikonya!” tegas SHE.
Pernyataan tersebut sekaligus memperlihatkan sikap SHE yang menempatkan jalur politik dan hukum sebagai instrumen perjuangan dalam menyampaikan kritik.
Sebagai seorang lawyer dan aktivis ’98 yang aktif menulis persoalan hukum serta politik, SHE mengatakan dirinya akan terus menyuarakan pandangan yang diyakininya, termasuk ketika harus berhadapan dengan risiko atas sikap politik yang diambilnya.
Bagi SHE, perdebatan politik seharusnya tidak berhenti pada perang narasi atau saling serang di ruang publik. Pengetahuan hukum, argumentasi rasional, serta keberanian menyampaikan kritik menurutnya tetap diperlukan agar masyarakat dapat melihat persoalan secara lebih jernih.
“Saya bersumpah untuk terus menerus memberikan perlawanan politik maupun hukum. Apapun risikonya!” pungkas Saiful Huda Ems (SHE).
Pewarta ifa
