Oleh: Ifa
Pewarta Ifaupdatenews.com
Jakarta, 14 Desember 2025 —
Gelombang kritik terhadap kekuasaan kembali menemukan momentumnya. Kali ini datang dari Saiful Huda Ems (SHE), lawyer, jurnalis, sekaligus aktivis Reformasi 1998, melalui sebuah tulisan yang viral di media sosial Facebook. Dalam waktu kurang dari 24 jam, tulisannya tentang seruan “bertaubat” kepada Presiden Joko Widodo menuai lebih dari 6.300 tanda suka, 600 kali dibagikan, serta hampir 1.000 komentar, dengan mayoritas mutlak menyatakan dukungan.
Fenomena ini bukan sekadar viralitas biasa. Menurut Saiful Huda, respons publik tersebut mencerminkan pergeseran psikologis dan politik rakyat, sekaligus menandai menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap elite kekuasaan yang dinilai gagal menghadirkan keadilan substantif.
“Ini bukan soal saya. Ini tentang suara hati rakyat yang selama ini terpendam,” ujar Saiful Huda dalam pernyataannya.
Isyarat Retaknya Legitimasi Kekuasaan
Saiful Huda menilai, besarnya dukungan publik tersebut menjadi indikator bahwa basis pendukung fanatik Presiden Jokowi — yang kerap disebutnya sebagai “termul” — semakin menyusut. Ia bahkan menyebut, secara sosiologis, rakyat mulai berada pada fase kehilangan rasa takut terhadap kekuasaan, sebuah kondisi yang dalam sejarah politik sering menjadi penanda perubahan besar.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa ketidakadilan dalam penegakan hukum, yang dinilai tajam ke bawah namun tumpul ke atas, telah menciptakan akumulasi kemarahan rakyat. Menurutnya, berbagai dugaan persoalan hukum yang menyeret lingkar kekuasaan, termasuk keluarga presiden, belum pernah disentuh secara serius, bahkan justru memperoleh berbagai privilese.
“Ketika hukum kehilangan wibawanya, maka rakyat akan mencari jalannya sendiri,” tegasnya.
Peringatan Dini: Jangan Remehkan Amarah Rakyat
Dalam narasinya, Saiful Huda menyerukan kepada para aktivis di seluruh Indonesia dan luar negeri agar mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan perubahan situasi nasional. Ia mengingatkan bahwa dinamika politik Indonesia ke depan berpotensi jauh lebih dahsyat dibandingkan Nepal, negara yang pernah mengalami guncangan politik besar akibat krisis kepercayaan terhadap elite.
Namun, Saiful Huda menegaskan bahwa amarah rakyat harus dipimpin dan diarahkan, bukan dibiarkan meledak tanpa kendali.
“Amarah rakyat harus dipimpin dengan kesadaran moral. Jika tidak, ia bisa berubah menjadi kekacauan,” ujarnya.
Revolusi Mawar: Perlawanan Bermoral, Bukan Kekerasan
Menariknya, Saiful Huda secara tegas menolak segala bentuk kekerasan. Ia memperkenalkan konsep “Revolusi Mawar”, sebuah simbol perlawanan rakyat yang mengedepankan cinta, nurani, dan kedamaian, bukan amarah brutal.
Revolusi Mawar, menurutnya, adalah upaya kolektif untuk menuntut pertanggungjawaban para penghianat negara melalui mekanisme hukum dan moral, sesuai dengan harapan rakyat kecil yang selama ini merasa terpinggirkan dari keadilan.
“Ini bukan revolusi berdarah. Ini revolusi hati nurani. Menghukum para penghianat negara bukan karena dendam, tetapi demi keadilan,” tegasnya.
Refleksi Reformasi 1998 dan Pesan untuk Elite
Sebagai aktivis Reformasi ’98, Saiful Huda mengingatkan bahwa sejarah telah membuktikan: rezim yang kehilangan kepercayaan rakyat hanya tinggal menunggu waktu. Ia menyebut, tumbangnya kekuasaan otoriter pada 1998 menjadi pelajaran bahwa suara rakyat tidak bisa dibungkam selamanya.
Seruan Revolusi Mawar, kata dia, sejatinya adalah peringatan keras namun bermartabat bagi elite politik agar segera berbenah, menghentikan penyalahgunaan kekuasaan, serta mengembalikan hukum sebagai panglima tertinggi.
Penutup
Tulisan Saiful Huda EMS bukan sekadar opini personal, melainkan cermin kegelisahan sosial yang semakin meluas. Di tengah ketimpangan hukum dan krisis kepercayaan publik, Revolusi Mawar menjadi metafora perlawanan moral rakyat yang menginginkan perubahan tanpa kekerasan, namun dengan ketegasan nurani.
Apakah seruan ini akan menjadi titik balik sejarah politik Indonesia, atau sekadar menjadi gema kritik yang diabaikan kekuasaan, waktu yang akan menjawab. Namun satu hal pasti: suara rakyat kini tak lagi bisa dianggap sepi.
Merdeka! ✊
