Www Ifaupdatenews com
ACEH TAMIANG | Ifaupdatenews.com — Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang tidak hanya merendam rumah, jalan, dan ladang warga. Di tengah lumpur, air keruh, dan kepanikan massal, bencana itu juga membuka sebuah kisah kemanusiaan yang begitu menggetarkan hati.
Hakim Kisty Wisyastuti, sosok yang dikenal tegas dan berwibawa di ruang sidang, mendadak harus menghadapi situasi yang sama sekali berbeda dari meja hijau. Selama enam hari, ia terjebak banjir bersama warga lainnya, berpindah dari satu titik ke titik lain demi menyelamatkan diri saat air terus naik hingga setinggi atap rumah.
Di pengungsian darurat, keterbatasan bantuan menjadi ujian berat. Makanan nyaris tak ada. Para penyintas terpaksa bertahan hidup dengan mi instan mentah dan beras seadanya. Belakangan diketahui, beras yang sempat dimasak ternyata berasal dari hasil jarahan warga yang terdesak kebutuhan. Situasi genting itu membuat rasa putus asa perlahan menyelimuti semua orang, tanpa terkecuali sang hakim.
Namun, di tengah kecemasan dan ketidakpastian, sebuah peristiwa tak terduga terjadi.
Dari kejauhan, menembus genangan air banjir yang keruh, sebuah perahu kecil mendekat. Di dalamnya ada empat pria yang wajahnya terasa asing, namun tatapannya penuh ketulusan. Siapa sangka, mereka adalah narapidana—orang-orang yang pernah duduk di kursi terdakwa dan divonis langsung oleh Hakim Kisty di masa lalu.
Tidak ada dendam. Tidak ada amarah. Yang ada hanyalah satu niat: menolong sesama manusia.
Tanpa ragu, keempat pria itu membantu Hakim Kisty naik ke perahu. Mereka mengevakuasinya setelah sang hakim sempat ditolak di beberapa titik pengungsian karena keterbatasan tempat dan kondisi yang semakin genting. Solidaritas itu datang dari arah yang paling tak pernah ia bayangkan.
Perjalanan penyelamatan pun tidak mudah. Dari perahu, Hakim Kisty harus melanjutkan perjalanan panjang menggunakan truk pengangkut sawit, lalu berpindah ke sampan tradisional, menyusuri jalur sulit hingga akhirnya berhasil keluar dari zona bahaya dan selamat kembali ke Medan.
Kisah ini menjadi potret nyata bahwa kemanusiaan tidak pernah mengenal sekat status, jabatan, atau masa lalu. Di hadapan hukum, mungkin ada perbedaan antara hakim dan terpidana. Namun di tengah bencana, semua label itu runtuh. Yang tersisa hanyalah nurani.
Mereka yang dahulu menerima vonis, kini justru tampil sebagai penyelamat sejati. Sebuah ironi yang indah sekaligus mengajarkan makna terdalam tentang empati, keberanian, dan kasih sayang.
Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia, betapapun kelam masa lalunya, selalu memiliki potensi kebaikan. Dan sering kali, pertolongan paling tulus datang dari tempat yang tidak pernah kita duga.
Pewarta: IFA
