JAKARTA, IFAUPDATENEWS.COM – Komitmen pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi nasional kembali ditegaskan dalam Sarasehan Kebangsaan yang menjadi bagian dari rangkaian Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jumat (26/6/2026). Forum strategis tersebut mempertemukan pemerintah, akademisi, ilmuwan, peneliti, pelaku industri, dunia usaha, hingga berbagai elemen masyarakat untuk menyatukan gagasan besar dalam membangun Indonesia yang lebih mandiri dan berdaya saing.
Presiden Prabowo Subianto hadir langsung membuka kegiatan didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersama jajaran Kabinet Merah Putih. Kehadiran para pemimpin nasional menunjukkan kuatnya komitmen pemerintah dalam membangun sinergi lintas sektor sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Sarasehan Kebangsaan diikuti lebih dari 2.600 peserta yang berasal dari ratusan perguruan tinggi, lembaga riset, akademisi, ilmuwan, pelaku industri, organisasi profesi, hingga mitra dunia usaha. Besarnya antusiasme peserta menjadi gambaran bahwa pembangunan nasional membutuhkan ruang kolaborasi yang mampu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat.
Dalam pidato pembukaannya, Presiden Prabowo menegaskan bahwa kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi juga oleh kemampuan para pemimpinnya membangun persatuan dan bekerja sama.
"Bangsa-bangsa yang elitnya bisa bekerja sama, bangsa itu yang bangkit. Bangsa yang elitnya selalu tidak bisa bekerja sama, bangsa itu tidak bisa mencapai potensinya," ujar Presiden.
Presiden juga mengajak seluruh elemen bangsa untuk meninggalkan berbagai perbedaan yang tidak produktif dan lebih mengedepankan kepentingan nasional.
"Mari kita hentikan kegaduhan yang tidak produktif dan mencari titik-titik kebersamaan demi kepentingan bangsa," ungkapnya.
Di tengah pembahasan mengenai strategi pembangunan nasional tersebut, perhatian juga tertuju kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Kehadirannya dinilai memperkuat arah kebijakan pemerintah dalam menjadikan sektor energi sebagai salah satu pilar utama menuju kemandirian ekonomi nasional.
Bahlil menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi yang sangat strategis dalam memperkuat ketahanan energi Indonesia melalui riset yang aplikatif dan mampu menjawab kebutuhan pembangunan.
"Perguruan tinggi harus memperkuat riset untuk mendukung ketahanan energi nasional," ujarnya.
Menurut Bahlil, hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai kajian akademik semata. Riset harus mampu menjawab kebutuhan industri, mendorong hilirisasi sumber daya alam, meningkatkan nilai tambah produk nasional, memperkuat investasi, sekaligus mempercepat terwujudnya kemandirian energi Indonesia.
Ia menilai sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dunia usaha merupakan fondasi penting dalam membangun sektor energi yang tangguh, berkelanjutan, dan mampu menghadapi tantangan global.
Sarasehan Kebangsaan tahun ini mengangkat tema "Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia", dengan fokus memperkuat kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, lembaga riset, industri, dan masyarakat dalam menghasilkan inovasi yang mampu mempercepat pembangunan nasional.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Prabowo kembali menegaskan bahwa kemajuan bangsa selalu berawal dari lahirnya gagasan para ilmuwan, akademisi, dan peneliti yang mampu diterjemahkan menjadi kebijakan pembangunan.
"Kemajuan bangsa dimulai dari gagasan para ilmuwan dan akademisi," tegas Presiden.
Berbagai isu strategis turut dibahas dalam forum tersebut, mulai dari ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi industri, penguatan pendidikan nasional, pembangunan ekonomi, hingga peningkatan kapasitas riset dan inovasi. Seluruh pembahasan diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang mampu mempercepat transformasi Indonesia menjadi negara maju.
Sementara itu, Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) DPP Partai Golkar menilai Sarasehan Kebangsaan merupakan momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan industri.
Ketua Harian LKI DPP Partai Golkar, Ari Supit, menyampaikan bahwa kehadiran Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, beserta seluruh jajaran Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjadikan ilmu pengetahuan, inovasi, dan kolaborasi sebagai fondasi utama pembangunan nasional.
Menurut Ari Supit, pesan Presiden mengenai pentingnya persatuan, penghentian kegaduhan yang tidak produktif, serta penguatan ilmu pengetahuan sebagai dasar pembangunan harus diterjemahkan menjadi kebijakan yang nyata dan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Ia juga menilai penekanan Bahlil Lahadalia terhadap penguatan riset perguruan tinggi, hilirisasi industri, serta sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha menjadi langkah strategis dalam mempercepat terwujudnya kemandirian energi sekaligus memperkuat daya saing ekonomi nasional.
"LKI DPP Partai Golkar berharap seluruh hasil Sarasehan Kebangsaan tidak berhenti sebagai forum diskusi, melainkan mampu diwujudkan menjadi kebijakan yang implementatif, terukur, dan berpihak pada kepentingan bangsa. Dengan semangat persatuan, inovasi, serta kolaborasi yang terus diperkuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat kemandirian ekonomi, memperkokoh ketahanan energi nasional, dan mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045," tutup Ari Supit.
Pewarta: Yuni
