IFAUPDATENEWS.COM – Praktik perdebatan yang terus berulang tanpa menghasilkan solusi nyata dinilai menjadi salah satu penyebab bangsa Indonesia sulit keluar dari berbagai persoalan yang membelit kehidupan berbangsa dan bernegara. Fenomena tersebut mendapat sorotan tajam dari Saiful Huda Ems (SHE), seorang lawyer dan analis politik, melalui tulisan reflektifnya bertajuk Merevolusi Pemikiran Manusia Indonesia.
Dalam tulisannya, SHE mengungkapkan keprihatinannya setelah mencermati berbagai perdebatan mengenai hukum, politik, agama, filsafat hingga persoalan kebangsaan yang hampir setiap hari memenuhi ruang publik, baik di forum diskusi televisi maupun media sosial.
Menurutnya, perdebatan yang berlangsung selama bertahun-tahun itu tidak pernah benar-benar menemukan titik temu. Sebaliknya, kondisi tersebut justru memperuncing polarisasi dan perlahan mengikis persatuan nasional.
"Kita terus sibuk berdebat, saling mempertahankan tafsir masing-masing, tetapi persoalan bangsa tidak kunjung selesai," ujar SHE.
Ia mencontohkan berbagai polemik yang terus menjadi konsumsi publik, mulai dari pengangkatan pejabat yang menuai kontroversi, berbagai kebijakan pemerintah yang memancing perdebatan, hingga dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan program-program strategis nasional.
Menurut SHE, semua persoalan tersebut selalu menjadi bahan perdebatan tanpa pernah menyentuh akar penyelesaian yang sesungguhnya.
Dalam perenungannya, SHE mengaku teringat pada sebuah kutipan terkenal karya Karl Marx yang terpampang di foyer Gedung Bersejarah Universitas Humboldt Berlin.
"Die Philosophen haben die Welt nur verschieden interpretiert; es kommt aber darauf an, sie zu verändern."
Kalimat tersebut berarti, "Para filsuf selama ini hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara; padahal yang terpenting adalah mengubahnya."
SHE menjelaskan bahwa kutipan tersebut berasal dari Tesis ke-11 tentang Feuerbach yang ditulis Karl Marx pada tahun 1845 di Brussel, Belgia.
Menurutnya, Marx mengkritik keras tradisi filsafat yang hanya berhenti pada aktivitas menjelaskan realitas tanpa menghadirkan tindakan nyata untuk mengubah keadaan.
"Marx mengajarkan bahwa teori harus melahirkan praksis. Pemikiran tidak boleh berhenti menjadi bahan diskusi, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang mampu mengubah kondisi sosial, politik, maupun ekonomi," ungkapnya.
SHE menilai pesan tersebut masih sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
Menurutnya, masyarakat terlalu lama terjebak dalam perdebatan panjang yang hanya melahirkan perbedaan pandangan, sementara pihak-pihak yang menciptakan berbagai persoalan justru terus bergerak tanpa hambatan.
"Kita saling mengarahkan telunjuk kepada sesama, sementara mereka yang menciptakan problem kebangsaan terus melenggang dan tindakannya semakin menjadi-jadi," tegasnya.
Lebih lanjut, SHE juga menyinggung ironi sejarah di Indonesia ketika berbagai literatur yang memuat gagasan-gagasan revolusioner pernah mengalami pembatasan.
Ia menilai kondisi tersebut ikut memengaruhi perkembangan budaya berpikir kritis masyarakat.
"Jangankan berdiskusi mengenai pemikiran-pemikiran revolusioner, memegang bukunya saja pernah dilarang. Bagaimana mungkin rakyat di negeri ini dapat berkembang pemikirannya," katanya.
Di bagian akhir tulisannya, SHE mempertanyakan apakah bangsa ini akan terus membiarkan praktik korupsi, manipulasi anggaran, serta penyalahgunaan kekuasaan terus terjadi tanpa adanya perubahan yang nyata.
Ia menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan keberanian untuk mengubah keadaan, bukan hanya memperpanjang daftar perdebatan yang tidak pernah berujung pada solusi.
Mengakhiri refleksinya, SHE mengutip semboyan filsafat klasik "Sapere Aude" atau "Beranilah menggunakan akal pikiranmu sendiri."
"Bangsa ini membutuhkan keberanian berpikir sekaligus keberanian bertindak. Jangan berhenti menjadi penafsir keadaan, tetapi jadilah bagian dari perubahan itu sendiri," pungkasnya.
Pewarta ifa
