Mataram | ifaupdatenews com — Ketegangan mewarnai kisah Trah Prabu Brawijaya Seri 1527: Mataram, Sultan Agung Hanyakrakusuma. Drana tiba-tiba muncul di kediaman Sayem dan mendapati Temon berada di luar rumah, tepatnya di area kebun, pada malam hari.
Kemunculan Temon di lokasi tersebut membuat Drana heran. Pasalnya, sepengetahuan Drana, Temon sebelumnya berada di Mataram. Situasi semakin mencurigakan karena Temon berada di luar rumah Sayem dan terlihat berusaha melarikan diri.
Ki Sarjo, ayah Sayem sekaligus mertua Drana, menjelaskan bahwa dirinya mendengar suara ketukan pintu sebelum keluar rumah.
“Yaa... Aku mendengar orang ketuk-ketuk pintu Sayem. Terus aku keluar...!” ujar Ki Sarjo.
Drana yang melihat Temon berada di lokasi langsung bertindak. Ia menilai keberadaan Temon pada malam hari di sekitar rumah Sayem patut dicurigai. Drana kemudian menelikung Temon hingga membuatnya tak berdaya.
“Temon ini pasti akan berbuat jahat terhadap Sayem. Akan aku hajar...!” tegas Drana.
Temon berusaha menjelaskan kedatangannya. Ia mengaku hanya ingin bertemu Sayem dan membantah telah melakukan perbuatan tidak senonoh.
“Ampun.... Aku hanya ingin bertemu Sayem...!” dalih Temon.
Namun, Drana tidak begitu saja mempercayai pengakuan tersebut. Ia terus mendesak Temon mengenai alasan kedatangannya secara sembunyi-sembunyi pada malam hari.
“Kau pasti sudah berbuat tak senonoh terhadap Sayem...!” tuduh Drana sambil semakin kuat menekan tangan Temon yang dipelintir di belakang tubuhnya.
Temon kembali membantah. Ia mengaku baru pertama kali datang ke tempat tersebut.
“Tidaaak...! Aku baru kali ini datang ke sini...!” elak Temon.
Drana kemudian mempertanyakan sikap Temon yang datang malam-malam dan berusaha menghindar.
“Mengapa sembunyi-sembunyi dan malam hari dan mencoba lari?” desak Drana.
Tekanan tersebut membuat Temon mengeluh kesakitan.
“Auuuch... Sakit...!” keluh Temon.
Drana bahkan mengancam akan mematahkan tangan Temon apabila terus memberikan alasan yang dianggap tidak meyakinkan.
“Biar aku patahkan tanganmu...!” ancam Drana.
Di tengah ketegangan itu, Ki Sarjo berdiri di dekat mereka sambil membawa bilah selarak pintu sepanjang satu depa. Kehadiran Ki Sarjo dengan benda tersebut membuat Temon semakin ketakutan. Ia khawatir persoalan yang dihadapinya akan berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
“Ampuun... Aku belum pernah berbuat sesuatu terhadap Sayem...!” elak Temon.
Namun Drana tetap menekan Temon.
“Mana ada maling mengaku maling...!” bentak Drana.
Temon kembali menyangkal tuduhan tersebut.
“Beluuum.... eeh tidaaak...!” jawab Temon.
Drana kemudian menilai jawaban Temon justru memperkuat kecurigaannya.
“Belum... belum...! Berarti kamu memang ingin berbuat jahat...!” desak Drana.
Dalam kondisi tertekan dan kesakitan, Temon akhirnya meminta ampun.
“Tidak... tidak... ampuun...!” rintih Temon.
Situasi tersebut sempat mengingatkan Drana pada peristiwa di Padepokan Sendang Wangi. Saat itu dirinya pernah diringkus Ki Tumenggung Ratmaka bersama para pengawalnya. Namun, Drana akhirnya dilepaskan dan tidak mengalami tindakan kekerasan.
Pengalaman tersebut membuat Drana mempertimbangkan kembali langkahnya. Ia tidak ingin persoalan dengan Temon berkembang menjadi konflik berkepanjangan. Terlebih, Drana mengetahui bahwa Temon memiliki kawan-kawan yang dikenal sebagai para berandalan.
Drana kemudian memberikan pilihan tegas kepada Temon.
“Tinggal pilih...! Tanganmu aku patahkan atau kamu tidak akan mengganggu Sayem dan keluarga ini lagi?” tanya Drana.
Temon yang semakin kesakitan akhirnya berjanji tidak akan mengganggu Sayem maupun keluarganya lagi.
“Yaaa.... Aku berjanji tidak akan mengganggu Sayem lagi!” kata Temon.
Drana kemudian meminta pertimbangan Ki Sarjo.
“Bagaimana Bapak, sebaiknya?” ujar Drana meminta pertimbangan mertuanya.
Ki Sarjo mengaku tidak ingin persoalan tersebut berkembang menjadi masalah dengan Ki Tarmin, ayah Temon sekaligus sahabatnya.
“Aku juga tidak ingin berurusan dengan Ki Tarmin sahabatku...!” jelas Ki Sarjo.
Ki Tarmin sendiri dikenal sebagai orang yang cukup berada di daerah tersebut.
Drana akhirnya memberikan peringatan terakhir kepada Temon. Ia menyatakan akan melepaskan Temon apabila benar-benar belum melakukan tindakan tidak senonoh terhadap Sayem. Namun, Drana menegaskan akan mengambil tindakan apabila kemudian Sayem mengaku menjadi korban perbuatan Temon.
“Jika kamu memang belum berbuat tak senonoh terhadap Sayem, kamu akan aku lepaskan. Namun jika nantinya Sayem mengaku telah menjadi korban perbuatanmu, aku tidak terima...!” tegas Drana.
Temon pun kembali berjanji tidak akan memperpanjang persoalan tersebut.
“Yaa... aku berjanji tidak akan memperpanjang masalah ini...!” janji Temon.
Drana akhirnya melepaskan tangan Temon dan berdiri. Temon pun bangkit dengan tertatih-tatih sebelum meninggalkan lokasi.
Tak lama kemudian, suara Nyi Sarjo terdengar dari depan rumah. Ia memanggil suaminya karena mendengar Ki Sarjo sedang berbicara dengan seseorang.
“Bapak-e.... Pak-e... Pak-e... Ada apa...?” teriak Nyi Sarjo.
Drana kemudian meminta Temon segera pergi sebelum warga berdatangan dan mengetahui persoalan tersebut.
“Cepat pergi sebelum banyak orang berdatangan!” ujar Drana.
Temon pun berlari kecil meninggalkan lokasi.
Ki Sarjo kemudian menjelaskan kepada istrinya bahwa Drana telah pulang dari Mataram dan mendapati rumah Sayem dalam keadaan kosong.
“Ini lho Drana pulang, tetapi rumah Sayem kosong...!” jawab Ki Sarjo.
Nyi Sarjo segera menghampiri mereka. Ia pun mempertanyakan kepulangan Drana yang sebelumnya disebut akan berada di Mataram selama beberapa pekan.
“Nak Drana... kok tiba-tiba sudah pulang, katanya akan beberapa pekan di Mataram?” tanya Nyi Sarjo.
Kepulangan Drana secara tiba-tiba dan pertemuannya dengan Temon di sekitar rumah Sayem membuka persoalan baru yang belum sepenuhnya terungkap. Konflik tersebut pun menyisakan tanda tanya mengenai apa sebenarnya tujuan Temon datang pada malam hari.
Pewarta: Ifa
Bersambung...
