Ifaupdatenews.com — Pewarta: Ifa
Bangkalan, Jawa Timur — Desa Jeddih di Kecamatan Socah mendadak berubah menjadi lautan duka pada Kamis sore (20/11/2025). Heningnya kolam bekas galian C di Bukit Jeddih pecah oleh tragedi memilukan: enam santri yang sedang berlatih renang untuk persiapan lomba ditemukan tewas tenggelam.
Mereka datang dengan semangat belajar dan keinginan untuk berprestasi. Namun siapa sangka, air tenang di kubangan bekas tambang itu justru menjadi tempat mereka menghembuskan napas terakhir.
Nama-nama korban:
Louvin Al Baru Suhara
Rasyid Ainul Yakin
Salman Alfarisi
Reynand Azka Mahardhika
M. Akhtar Mujazin Ainul Izzi (seluruhnya asal Surabaya)
M. Nasiruddin Adrai (asal Sampang)
Usia mereka masih sangat muda sebagian besar masih duduk di bangku sekolah dasar.
Detik-Detik Tragedi: Satu Tertinggal, Lima Menyusul untuk Menolong
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Menurut keterangan warga, latihan renang berjalan seperti biasa hingga salah satu santri tiba-tiba tidak muncul kembali ke permukaan.
Melihat temannya hilang, lima santri lain spontan berusaha menolong dengan melompat ke titik yang sama.
Namun kolam bekas galian C itu menyimpan bahaya mematikan:
kedalaman mencapai beberapa meter,
dasar yang tidak rata,
serta material galian yang mudah menghisap tubuh ke bawah.
Niat mulia untuk menolong justru membuat keenam anak itu terperangkap dalam air yang gelap dan dalam.
Upaya Penyelamatan Terlambat dan Serba Terbatas
Hingga pukul 17.30 WIB, warga yang menyadari ada kejanggalan segera turun ke air melakukan pencarian manual—tanpa alat selam, tanpa pelampung, hanya dengan tangan kosong.
Satu per satu, jasad anak-anak itu akhirnya ditemukan di dasar kolam, sudah tidak bernyawa.
Mereka sempat dibawa ke Puskesmas. Namun enam nyawa kecil itu tak bisa lagi diselamatkan. Suasana ruang perawatan berubah menjadi jeritan, tangis, dan pelukan duka keluarga yang datang bergegas.
Polisi: Keluarga Menolak Autopsi
Kapolsek Socah, IPTU Pariadi, membenarkan tragedi ini.
“Keluarga telah menandatangani penolakan autopsi. Seluruh jenazah dibawa pulang untuk proses pemakaman,” ujarnya.
Luka Lama yang Terulang: Bahaya Galian C Masih Mengintai Anak-Anak
Tragedi ini kembali menyoroti fakta pahit: banyak bekas galian C di Madura yang dibiarkan menganga tanpa pengamanan, tanpa pagar, tanpa papan larangan, tanpa penjagaan.
Selama ini lokasi-lokasi seperti itu kerap berubah fungsi menjadi:
tempat bermain anak,
spot mandi warga,
bahkan arena latihan renang tanpa pengawasan profesional.
Warga Jeddih berharap kejadian ini menjadi batas terakhir cukup sudah korban berjatuhan karena kelalaian para pemilik dan pengelola lahan.
Mimpi yang Pupus, Desa yang Berduka
Enam keluarga kini pulang membawa duka yang tidak akan pernah hilang.Mimpi anak-anak mereka untuk berlaga di lomba renang tinggal kenangan.
Desa Jeddih hening Madura terguncang.Dan Indonesia kembali diingatkan: wilayah berbahaya tanpa pengamanan adalah ancaman nyata bagi masa depan generasi muda.
