IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” Saiful Huda Ems: “Siapa Mempermainkan NU Akan Jatuh atau Dijatuhkan!”

Saiful Huda Ems: “Siapa Mempermainkan NU Akan Jatuh atau Dijatuhkan!”

 


ifaupdatenews.com — Pewarta: Ifa

Jakarta, 22 November 2025 — Pengacara senior sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Saiful Huda Ems (SHE), kembali mengirim sinyal keras kepada pihak-pihak yang dinilainya tengah mencoba menarik NU masuk ke pusaran permainan politik praktis. Dalam tulisan reflektif yang beredar di kalangan Nahdliyin, SHE menegaskan bahwa NU bukanlah “kapal bebas pakai” dan tidak boleh diperlakukan sebagai komoditas kekuasaan.

“Siapa yang bermain-main dengan NU… ia akan kualat. Ia akan jatuh atau dijatuhkan,” tegas SHE, membuka kritik panjangnya yang sarat peringatan tegas bagi siapa saja yang mencoba memanfaatkan NU demi kepentingan sesaat.


NU Bukan Panggung Politik, NU Adalah Rumah Ulama

Dalam analisisnya, SHE mengingatkan kembali bahwa pendiri NU — KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri — mewariskan organisasi besar ini sebagai jam’iyah ulama, bukan kendaraan politik. Karena itu, ia mengecam segala bentuk upaya “membajak NU” untuk meraih legitimasi atau kekuasaan.

“NU bukan kendaraan politik yang bisa seenaknya digunakan untuk meraih kekuasaan,” kritik SHE.

Ia juga menyinggung isu kontroversial terkait kunjungan ke Israel, yang menurutnya bertentangan dengan garis perjuangan NU sejak awal: membela Palestina dan menolak segala bentuk penjajahan. Bagi SHE, Nahdliyin sejati wajib memegang prinsip al-muqowwamah — ketegasan melawan setiap upaya perampasan kemanusiaan.


Lima Fondasi NU: Kompas Moral yang Tak Boleh Melenceng

SHE kemudian mengurai kembali lima fondasi utama NU yang menurutnya harus menjadi pegangan, terutama ketika organisasi ini mulai diganggu oleh kepentingan eksternal.


1. Menjaga ajaran Aswaja

NU berdiri sebagai benteng Islam moderat. Akidah Asy’ari–Maturidi, fikih Syafi’i, dan tasawuf Junaid serta Al-Ghazali adalah pilar yang tak boleh dipelintir demi agenda politik.

2. Mengorganisasi ulama dan pesantren

NU lahir dari kegelisahan para kiai. Wadah ini dibangun untuk merespons persoalan umat, bukan sebagai alat tawar-menawar di meja kekuasaan.

3. Melindungi kepentingan umat

Dalam aspek pendidikan, sosial, ekonomi, dan kehidupan beragama. NU bukan tempat bagi mereka yang hanya ingin memperkaya diri atau kelompok.

4. Menjaga martabat bangsa

Sejak masa perjuangan kemerdekaan, NU berada di garis depan mempertahankan kedaulatan Indonesia. Sikap ini, menurut SHE, tidak boleh dikhianati oleh ambisi politik.

5. Menyebarkan Islam rahmatan lil ‘alamin

NU adalah perekat bangsa. Karena itu, organisasi ini tidak boleh berubah menjadi ruang para broker politik atau makelar moral.


“Akan Jatuh atau Dijatuhkan” — Peringatan Terbuka untuk Siapa Saja

Di ujung pernyataannya, SHE mengeluarkan kalimat yang jauh lebih keras. Ia mengingatkan bahwa NU terlalu besar untuk dipermainkan dan terlalu bersejarah untuk dijadikan properti politik individu.

“Siapa pun yang memperkaya diri, memanfaatkan NU untuk kepentingan kelompok, atau menjadikan NU alat politik… maka ia akan kualat. Ia akan jatuh atau dijatuhkan.”

SHE menyebut NU sebagai rumah besar yang berdiri dari doa para kiai, cucuran keringat para santri, dan perjuangan umat. Tidak ada yang berhak memanipulasi warisan sebesar itu.


Profil SHE: Santri Tebuireng yang Tak Pernah Diam Melawan Ketidakadilan

Saiful Huda Ems adalah pengacara sekaligus penulis dengan rekam jejak panjang dalam isu keagamaan dan kebangsaan. Alumni Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1985–1991) ini dikenal sebagai salah satu pendiri KMNU (Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama).

Gaya kritiknya lugas, keras, berani, dan tidak pernah menjilat kekuasaan. Ia berdiri pada garis moral yang sama sejak muda: membela umat, menjaga bangsa, dan mengingatkan NU agar tak terseret ke ruang gelap permainan politik.

Lebih baru Lebih lama