Ifaupdatenews.com | Pewarta : Ifa
Aceh kembali menangis. Tanah Serambi Mekkah yang pernah berdarah oleh tsunami maha dahsyat dua dekade silam, kini kembali menjerit di tengah pusaran bencana banjir bandang yang merenggut rumah, asa, dan kehidupan rakyat kecil yang tak meminta apa pun kecuali pertolongan. Deru air bah datang seperti mimpi buruk yang berulang, menghantam kampung, menelan sawah dan ladang, meninggalkan isak pilu dan tenda-tenda darurat sebagai saksi.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, yang menyaksikan langsung kehancuran itu bahkan tak mampu menahan air mata. Tangisnya pecah di tengah reruntuhan harapan rakyatnya—dan tangis seorang pemimpin adalah bukti betapa luka ini bukan sekadar data statistik, bukan hanya angka-angka kerusakan, tapi nyawa, masa depan, dan martabat manusia yang hilang sekejap oleh ganasnya alam.
Namun ironi menampar nurani bangsa. Hingga detik kabar ini ditulis, belum ada keputusan bahwa Aceh dan provinsi lain di Sumatra yang porak-poranda adalah bencana nasional. Padahal ribuan keluarga mengungsi, anak-anak tidur dengan tubuh menggigil, ibu-ibu menahan lapar sambil memeluk sisa pakaian yang masih bisa diselamatkan.
Di saat Sri Lanka dulu mendapat respons cepat dari dunia, negeri sendiri kini menunggu. Apakah harus lebih banyak korban? Haruskah ratap ibu-ibu yang kehilangan anak terdengar sampai istana baru ada tanda tangan yang menetapkan status darurat nasional?
Di balik deru banjir, ada tanya yang bergema di dada rakyat:
"Sebegitu keras hatimu wahai penguasa?
Pada mereka yang sedang berjuang agar esok masih bisa hidup?"
Derita ini bukan hanya milik Aceh. Tiga provinsi di Sumatra tersungkur serempak, rumah hanyut, jalan amblas, sekolah jadi puing, hewan ternak mati berserakan. Getir, getir sekali. Dan lebih getir lagi ketika para pengungsi harus menunggu bantuan bergulir pelan, sementara waktu adalah racun yang menggerogoti ketahanan tubuh dan mental mereka.
Di tengah bencana sebesar ini — di mana tangis tidak hanya terdengar, tetapi bergetar dalam tulang — negara harus hadir, bukan menunda. Pemerintah pusat, pejabat, politisi, pengusaha konglomerat, selebritas dengan jutaan penggemar — semestinya turun tangan, bukan sekadar mengirim doa di layar ponsel.
Ini panggilan kemanusiaan.
Ini seruan nurani.
Ketika rakyat terpukul, negara harus memeluk.
Ketika alam murka, manusia harus berbagi.
Hari ini, Aceh dan saudara-saudaranya di Sumatra membutuhkan lebih dari janji. Mereka butuh bantuan nyata: logistik, obat-obatan, selimut, tenaga medis, relawan, dan keputusan cepat agar penanganan tidak terbelenggu batas administratif.
Bencana ini bukan hanya tentang wilayah.
Ini tentang Indonesia. Tentang kita semua.
Semoga pintu hati pejabat tinggi negeri terbuka lebar, hingga keputusan penetapan bencana nasional tidak lagi menunggu korban bertambah. Semoga para dermawan, publik figur, hingga orang-orang kaya negeri ini tergerak menyisihkan sedikit dari kelimpahan hartanya untuk saudara se tanah air yang kini sedang berjuang hidup.
Karena air mata Aceh adalah air mata Indonesia.
Dan jika hari ini kita diam, siapa yang akan menangisi kita ketika musibah datang berganti arah?
Saiful Huda EMS (SHE) – melalui tulisannya kembali mengingatkan betapa kemanusiaan harus didahulukan atas segala kepentingan. Tidak ada bangsa besar yang membiarkan rakyatnya berjuang sendiri di tengah genangan air mata bencana.
