IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” Refleksi Selasa Legi: Makna Udeng, Kesadaran Berpikir, dan Seruan Kembali ke Jati Diri NKRI

Refleksi Selasa Legi: Makna Udeng, Kesadaran Berpikir, dan Seruan Kembali ke Jati Diri NKRI


IFAUPDATENEWS.COM | Refleksi Bangsa

Di bawah limpahan rahmat Allah SWT, Selasa Legi, 30 Desember 2025, bertepatan dengan 9 Rajab 1447 Hijriah, kembali mengingatkan bangsa ini pada satu nilai mendasar yang kian langka: kesadaran untuk berpikir, memahami, dan menjaga jati diri.

Dalam khazanah budaya Nusantara, Selasa Legi bukan sekadar penanda hari. Ia menyimpan filosofi mendalam. Dengan jumlah neptu 8, lakuning geni, serta wuku Kuruwekut, hari ini dipercaya membawa pesan tentang api kesadaran, keteguhan prinsip, dan keberanian menyalakan nurani di tengah tantangan zaman.

Salah satu simbol kuat yang relevan dalam refleksi hari ini adalah Udeng. Penutup kepala khas Nusantara itu bukan sekadar busana adat, melainkan lambang “utèk sing bèn mudèng” — otak yang digunakan untuk berpikir. Filosofinya tegas: manusia wajib menggunakan akal sehatnya untuk belajar, memahami kehidupan, serta membaca tanda-tanda alam dan zaman.

Namun realitas hari ini menunjukkan paradoks. Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, daya pikir justru sering tumpul. Nalar dikalahkan emosi, kebijaksanaan kalah oleh sensasi, dan nilai luhur tersisih oleh kepentingan sesaat.

Dalam konteks itulah, pesan hidup sehat tanpa narkoba menjadi semakin relevan. Narkoba bukan hanya merusak tubuh, tetapi menghancurkan akal, memutus masa depan, dan mencabut manusia dari kesadarannya sebagai makhluk bermartabat. Bangsa yang membiarkan generasinya terjerat narkoba sama artinya sedang mempertaruhkan kelangsungan peradaban.

Lebih jauh, refleksi Selasa Legi juga menjadi seruan moral untuk kembali ke jati diri NKRI secara haqqul yaqin. Bukan sekadar slogan, tetapi keyakinan yang hidup dalam sikap, perilaku, dan keputusan sehari-hari. NKRI dibangun di atas persatuan, akal sehat, adab, serta nilai spiritual yang luhur.

Ketika nilai-nilai itu diabaikan, yang lahir bukan kemajuan, melainkan kegaduhan. Bukan keadilan, melainkan ketimpangan. Dan bukan kesejahteraan, melainkan krisis kepercayaan.

Momentum ini menjadi ajakan kolektif bagi seluruh elemen bangsa untuk merenung dan menata ulang arah. Menguatkan kembali iman, menjaga akal dari hal-hal yang merusak, serta menempatkan kebudayaan sebagai penopang karakter nasional.

Sebagaimana filosofi udeng, bangsa ini hanya akan kokoh jika warganya mau berpikir jernih, belajar tanpa henti, dan berani memahami kehidupan secara utuh—lahir dan batin.

Semoga di hari yang sarat makna ini, bangsa Indonesia senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, serta limpahan rahmat dan hidayah dari Allah SWT, agar tetap tegak menjaga martabat, persatuan, dan masa depan NKRI.


Pewarta: IFA

Editor: Redaksi

IFAUPDATENEWS.COM

Lebih baru Lebih lama