Ifaupdatenews.com — Pewarta: Ifa
10 Desember 2025
Kisruh internal pada salah satu organisasi masyarakat Islam terbesar di Indonesia kembali menjadi sorotan publik. Penulis dan pengamat sosial-politik Saiful Huda EMS (SHE) melontarkan kritik tajam terhadap dua kubu yang tengah berebut legitimasi kepengurusan. Dalam tulisan reflektif yang dirilis pada 10 Desember 2025, SHE menyebut kemelut ini sebagai potret buram bagaimana kepentingan politis, bisnis, dan jejaring kekuasaan merusak marwah organisasi yang seharusnya menjadi benteng moral umat.
Menurut SHE, kedua kelompok yang bertikai tidak lagi menampilkan arah perjuangan yang jelas untuk kemaslahatan umat. Ia menilai, konflik ini jauh dari nilai dakwah, jauh dari agenda pendidikan, dan jauh dari misi besar pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Aroma Politik dan Bisnis yang Mengaburkan Misi Keumatan
SHE menyebut bahwa di salah satu kubu terdapat figur-figur yang ia nilai terlalu dekat dengan lingkaran kekuasaan. Ia menyinggung keberadaan menteri yang dianggap “calo-calo politik”, hingga tokoh agama yang menurutnya lebih sibuk membangun simbol-simbol spiritualitas artifisial ketimbang memperbaiki kondisi umat.
Sementara itu, kubu lain yang menolak keputusan pemberhentian kepengurusan justru dituding tidak melepaskan diri dari kepentingan tambang dan urusan-urusan ekonomi besar yang selama ini menjadi sumber friksi internal. “Jika dugaan itu benar,” tulis SHE, “maka organisasi ini telah berubah menjadi tempat mencari kekayaan, bukan ruang perjuangan.”
Baik kubu pertama maupun kedua, menurutnya, “tidak bisa lagi diharapkan menjadi pengontrol pemerintah, penggerak dakwah, maupun penghela pendidikan dan kesehatan umat.”
Bayang-Bayang Korupsi dan Jebakan Kekuasaan
Dalam kritiknya, SHE mengaitkan kegaduhan ini dengan berbagai dugaan penyimpangan yang pernah menjadi pembicaraan publik, mulai dari isu tambang, kuota haji, hingga jejaring internasional tertentu. Ia tidak menyatakan itu sebagai fakta, namun mempertanyakan apakah rangkaian masalah tersebut berkontribusi pada kerusakan moral dan fragmentasi internal.
Lebih jauh, ia menyoroti kedekatan sejumlah tokoh dengan figur-figur besar pemerintahan seperti Joko Widodo, Luhut Binsar Pandjaitan, Erick Thohir, dan Bahlil Lahadalia. SHE menyebut bahwa sebagian elit ormas seolah masih “menyembah berhala kekuasaan”, sebuah metafora keras untuk menggambarkan ketergantungan politik yang berkepanjangan.
“Saya khawatir dzikir mereka bukan lagi Ya Ghofar, Ya Shomad, Ya Aziz, Ya Hafiz,” tulisnya, “melainkan Ya Jokowi, Ya Luhut, Ya Erick, dan Ya Bahlil.”
Pernyataan itu menjadi salah satu kritik paling pedas yang datang dari kalangan intelektual muslim terhadap kondisi ormas Islam tersebut.
Kepemimpinan Umat yang Merapuh di Tengah Masalah Moral
SHE menyebut kekacauan ini sebagai tanda melemahnya integritas kepemimpinan Islam di level struktural. Ia mengingatkan bahwa ormas sebesar itu seharusnya menjadi penjaga nilai, pembimbing umara, dan penata arah peradaban umat. Bukan justru larut dalam tarik-menarik kepentingan politik praktis dan ekonomi.
“Jika benar-benar terjadi,” tulis SHE, “kerusakan ini adalah bencana moral. Umat tidak membutuhkan alat politik, umat membutuhkan pelita.”
Menurutnya, kondisi ini membuat publik muslim kehilangan rumah besar yang biasanya menjadi rujukan, menjadi peneduh, sekaligus menjadi pengontrol kekuasaan.
Tanda Bahaya untuk Masa Depan Ormas Islam
Dalam penutup tulisannya, SHE menyampaikan bahwa ia tidak berpihak pada kubu mana pun. “Sedikit pun saya tidak simpati pada kedua kubu itu,” tegasnya. “Aroma politis dan bisnisnya kental sekali.”
Ia menyerahkan penilaian akhir kepada publik dan kepada Allah SWT atas keruwetan ini. “Wallahu a'lamu bishawab,” tulisnya, menandai akhir kritik yang keras sekaligus sarat keprihatinan itu.
Refleksi Umat: Saatnya Membersihkan Rumah Besar dari Kepentingan
Kisruh yang menggurita dalam ormas Islam terbesar ini menunjukkan betapa struktur keagamaan sekalipun tidak kebal dari godaan kekuasaan dan ekonomi. Pertarungan kepentingan internal yang tajam justru berpotensi merugikan puluhan juta warga muslim yang berharap mendapatkan bimbingan, bukan konflik.
Kritik SHE menjadi alarm yang menggema: bahwa sebelum bicara tentang peradaban, ormas keagamaan harus kembali membersihkan rumahnya sendiri.
