IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” Ketegangan Global Meningkat, Analis Politik Ingatkan Ancaman Perang Dunia III

Ketegangan Global Meningkat, Analis Politik Ingatkan Ancaman Perang Dunia III


Surabaya | Ifaupdatenews.com —

Dinamika geopolitik global menunjukkan eskalasi yang kian mengkhawatirkan. Sejumlah langkah politik dan militer yang dilakukan negara-negara besar dinilai berpotensi menyeret dunia ke dalam pusaran konflik berskala global. Kondisi ini memunculkan kembali kekhawatiran lama: kemungkinan pecahnya Perang Dunia III.

Analis politik dan hukum internasional, Saiful Huda Ems (SHE), menilai bahwa arah kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir memperlihatkan kecenderungan yang semakin agresif dan unilateral. Menurutnya, situasi ini tidak hanya mengganggu stabilitas kawasan tertentu, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan lintas benua.

Salah satu isu krusial yang disoroti adalah mencuatnya kembali wacana penguasaan Pulau Greenland, wilayah otonom milik Denmark. Greenland memiliki posisi strategis di kawasan Arktik, baik dari sisi militer, jalur pelayaran, maupun cadangan sumber daya alam. Saiful Huda Ems menilai bahwa pendekatan Amerika Serikat yang cenderung memaksakan kehendak atas wilayah tersebut berpotensi menimbulkan konflik serius dengan negara-negara Eropa.

“Jika pendekatan koersif terus digunakan, maka bukan tidak mungkin Eropa akan bersikap lebih keras. Ini bukan sekadar persoalan wilayah, tetapi menyangkut kedaulatan negara dan tatanan hukum internasional,” ujar SHE dalam analisanya.

Situasi tersebut diperparah oleh meningkatnya ketegangan Amerika Serikat dengan sejumlah negara lain, termasuk Rusia dan China. SHE menyoroti insiden penyitaan kapal tanker berbendera Rusia di perairan internasional sebagai tindakan yang berpotensi melanggar hukum maritim internasional. Respons Rusia yang kemudian meningkatkan kehadiran militernya di sekitar wilayah konflik menunjukkan bahwa risiko eskalasi terbuka tidak bisa dipandang remeh.

China, di sisi lain, juga memperlihatkan sikap tegas dengan mengerahkan pengawalan militer terhadap kapal-kapal tanker miliknya. Langkah ini menandakan bahwa jalur energi global kini menjadi arena persaingan strategis yang sangat sensitif, di mana kesalahan kecil dapat berujung pada konfrontasi besar.

Menurut SHE, yang paling mengkhawatirkan adalah melemahnya kohesi di tubuh NATO. Aliansi pertahanan yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung stabilitas Atlantik Utara itu kini dihadapkan pada perbedaan kepentingan internal. Beberapa negara Eropa mulai mempertanyakan arah kebijakan Amerika Serikat yang dinilai terlalu berisiko dan tidak selalu sejalan dengan kepentingan keamanan kawasan Eropa sendiri.

“Jika NATO kehilangan kekompakan, maka peta kekuatan global akan berubah drastis. Dalam skenario ekstrem, Amerika Serikat bisa menghadapi tekanan internasional yang sangat besar,” jelas SHE.

Meski demikian, ia menilai bahwa kemungkinan NATO bersekutu secara formal dengan Rusia dan China masih sangat kecil, terutama karena konflik Ukraina–Rusia yang hingga kini belum menemukan titik temu. Namun, kerja sama terbatas demi menjaga stabilitas kawasan tetap menjadi opsi rasional bagi negara-negara Eropa.

Saiful Huda Ems juga menyinggung meningkatnya kesiapsiagaan sipil di sejumlah negara Eropa. Latihan perlindungan warga sipil, simulasi evakuasi, hingga sistem peringatan dini kembali diaktifkan. Menurutnya, ini merupakan sinyal bahwa ancaman konflik global kini tidak lagi dianggap sebagai wacana semata.

Dalam analisanya, SHE menyebut Jerman, khususnya Berlin, sebagai salah satu titik strategis yang berpotensi kembali memainkan peran sentral dalam dinamika global. Bukan semata karena faktor militer, tetapi karena Jerman dikenal sebagai pusat pemikiran kritis, ideologi, dan perdebatan strategis yang kerap memengaruhi arah kebijakan dunia.

“Sejarah membuktikan bahwa perubahan besar dunia sering kali diawali dari pergolakan ide dan kesadaran kolektif. Jerman memiliki memori sejarah yang kuat tentang perang, dan itu justru membuatnya sangat peka terhadap ancaman konflik global,” pungkasnya.

SHE menegaskan, dunia saat ini berada di persimpangan jalan antara diplomasi rasional dan eskalasi konflik. Pilihan para pemimpin global dalam beberapa tahun ke depan akan sangat menentukan apakah umat manusia mampu menghindari tragedi perang dunia berikutnya, atau justru mengulang luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.


Pewarta: Ifa

Editor: Redaksi Ifaupdatenews.com

Lebih baru Lebih lama