IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” REVOLUSI ATAU STAGNANSI: CATATAN KRITIS SAIFUL HUDA EMS TENTANG SISTEM, KEKUASAAN, DAN NASIB KAUM PINGGIRAN

REVOLUSI ATAU STAGNANSI: CATATAN KRITIS SAIFUL HUDA EMS TENTANG SISTEM, KEKUASAAN, DAN NASIB KAUM PINGGIRAN


Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)

Pewarta: Ifa

Media: ifaupdatenews.my.id

29 Januari 2026

JAKARTA — Pemikiran kritis tentang perubahan bangsa kembali mengemuka melalui tulisan reflektif Saiful Huda Ems (SHE), seorang aktivis pergerakan yang telah menapaki jalan panjang perjuangan sejak awal dekade 1990-an. Dalam catatannya yang berjudul “Revolusi”, SHE menyampaikan pandangan tajam dan lugas: bangsa ini, menurut keyakinannya, tidak akan pernah benar-benar berubah tanpa sebuah revolusi sistemik yang mendasar.

Pandangan tersebut bukan lahir dari ruang kosong, melainkan dari akumulasi pengalaman panjang dalam dunia pergerakan sejak tahun 1991 hingga hari ini. SHE menilai bahwa selama sistem sosial, politik, dan ekonomi yang koruptif masih dipertahankan, maka perubahan yang diharapkan rakyat hanya akan menjadi ilusi yang terus diulang dari generasi ke generasi.

“Pejabat yang rakus akan tetap rakus selama sistem memberi ruang bagi kerakusan itu. Koruptor papan atas tidak akan berhenti, justru akan naik level selama kesempatan itu ada,” tegas Saiful Huda Ems dalam pernyataannya.

Lebih jauh, SHE menyoroti keberadaan komprador—elite perantara kepentingan kekuasaan dan modal—yang menurutnya akan selalu bertahan selama sistem memberi legitimasi dan keuntungan bagi mereka. Dalam struktur seperti ini, kaum pinggiran hampir tidak memiliki ruang mobilitas sosial yang adil.

Menurut SHE, peluang masyarakat kelas bawah untuk naik derajat secara ekonomi dan sosial sangat kecil, bahkan nyaris mustahil. Ia menyebut hanya sekitar satu persen yang mampu keluar dari jerat sistem busuk tersebut, itupun melalui perjuangan hidup yang ekstrem atau faktor keberuntungan yang tidak bisa direplikasi.

“Orang-orang pinggiran hidup dalam sistem yang tidak pernah dirancang untuk mengangkat mereka. Kalau pun ada yang lolos, itu lebih karena perjuangan hidup yang nyaris gila, atau semata karena nasib baik,” ungkapnya.

Kritik paling tajam diarahkan pada kultur feodalisme yang masih mengakar kuat. Dalam kultur ini, kata SHE, para pendusta agama kerap bersekutu dengan kaum borjuis korup untuk melanggengkan dominasi dan menutup peluang keadilan sosial. Akibatnya, sekeras apa pun seseorang berjuang, posisi sosialnya nyaris tak bergeser.

“Dalam kultur feodalis, puncak pencapaian rakyat kecil sering kali hanya mengisi kekosongan elite yang runtuh, bukan karena sistem berubah, tapi karena takdir kebetulan,” lanjut SHE.

SHE juga menyinggung fenomena naiknya sejumlah tokoh berlatar belakang rakyat kecil ke posisi kekuasaan. Namun, menurutnya, kisah tersebut kerap berakhir ironis. Banyak dari mereka justru bertransformasi menjadi bagian dari sistem yang sebelumnya mereka lawan.

“Mereka memang naik kelas, tetapi akhirnya bekerja sebagaimana borjuis korup dan kapitalis penindas lainnya. Bahkan, sebagian tersandung kasus hukum dan korupsi,” katanya.

Fenomena ini, lanjut SHE, justru menegaskan bahwa keberhasilan individual di dalam sistem yang rusak tidak otomatis membawa perubahan struktural. Sebaliknya, sistemlah yang kerap menelan individu dan membentuk mereka menjadi bagian dari masalah baru.

Ia pun menyampaikan peringatan keras bagi siapa pun yang bercita-cita mengubah nasib dengan mengikuti jalur kekuasaan dalam sistem yang sama.

“Kalau ingin menempuh jalan itu, silakan. Tapi harus siap dengan konsekuensinya: sangat sedikit yang sukses dengan cara benar, dan lebih banyak yang akhirnya menjadi manusia durjana berikutnya,” ujarnya tegas.

Di akhir refleksinya, Saiful Huda Ems menegaskan bahwa pandangan tersebut adalah keyakinan pribadinya yang lahir dari pengalaman panjang dan pembacaan realitas sosial yang jujur. Ia pun membuka ruang diskusi publik agar masyarakat berani berpikir kritis tentang makna perubahan sejati.

“Ini keyakinan saya. Pertanyaannya, apakah kita masih percaya pada perubahan kosmetik, atau berani membicarakan revolusi sebagai jalan pembebasan?” tutup SHE.

Tulisan ini menjadi pengingat bahwa wacana perubahan tidak cukup berhenti pada pergantian figur, melainkan harus menyentuh akar sistem yang selama ini dianggap lumrah. Sebuah refleksi keras, namun relevan, di tengah kegelisahan publik terhadap arah masa depan bangsa.

Lebih baru Lebih lama