IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” Hakikat Puasa dalam Perspektif Tasawuf: Advokat Musrifah S.Sos, SH Tegaskan Jalan Sunyi Menuju Kedekatan Ilahi

Hakikat Puasa dalam Perspektif Tasawuf: Advokat Musrifah S.Sos, SH Tegaskan Jalan Sunyi Menuju Kedekatan Ilahi


Www Ifaupdatenews.com

Surabaya – Ibadah puasa selama ini kerap dimaknai sebatas kewajiban menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun bagi kalangan tasawuf, puasa adalah disiplin spiritual yang jauh melampaui batas fisik. Ia merupakan proses penyucian jiwa, latihan pengendalian diri, dan jalan sunyi menuju kedekatan dengan Allah SWT.

Hal tersebut ditegaskan oleh Advokat Musrifah S.Sos, SH dalam refleksi spiritualnya yang diterima redaksi Ifaupdatenews.com Menurutnya, puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarana pembentukan karakter dan penajaman kesadaran ruhani.

“Puasa adalah momentum membersihkan batin dari dominasi hawa nafsu. Ia bukan hanya menahan perut, tetapi menahan ego, ambisi, dan kesombongan,” tegasnya.

Puasa: Dari Syariat ke Hakikat

Dalam tataran syariat, puasa memiliki aturan yang jelas dan tegas: menahan diri dari makan, minum, serta hubungan suami-istri pada waktu yang telah ditentukan. Namun dalam dimensi tasawuf, puasa tidak berhenti pada aspek lahiriah tersebut.

Mengutip pemikiran Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, Musrifah menjelaskan bahwa puasa merupakan sarana tazkiyatun nafs—penyucian jiwa dari kecenderungan duniawi.

“Dalam tasawuf, puasa adalah latihan ruhani. Ia melatih manusia agar tidak diperbudak oleh kebutuhan material. Di situlah manusia belajar tentang makna ketergantungan sejati hanya kepada Allah SWT,” ujarnya.

Puasa, lanjutnya, menjadi medan tempaan bagi hati agar lebih peka terhadap kehadiran Ilahi dan lebih sadar akan hakikat dirinya sebagai hamba.

Tiga Tingkatan Puasa

Dalam perspektif tasawuf sebagaimana diuraikan Imam Al-Ghazali, puasa memiliki tiga tingkatan.

Pertama, Puasa Awam

Puasa pada tingkat ini adalah menahan lapar, dahaga, dan syahwat secara fisik. Secara hukum, ia sah dan menjadi fondasi dasar ibadah.

Kedua, Puasa Khawas

Pada tingkat ini, seseorang tidak hanya menahan perut, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Mata dijaga dari pandangan haram, telinga dari hal sia-sia, lidah dari dusta dan ghibah, serta tangan dan kaki dari perbuatan maksiat.

Ketiga, Puasa Khawasul Khawas

Inilah puncak spiritualitas puasa. Hati ditahan dari selain Allah. Pikiran tidak lagi disibukkan oleh ambisi duniawi, melainkan dipenuhi kesadaran total kepada Sang Pencipta.

“Puasa tertinggi adalah ketika hati kosong dari ego dan penuh dengan cahaya Ilahi. Di situ, puasa menjadi ekspresi cinta, bukan lagi sekadar kewajiban,” terang Musrifah.

Lapar sebagai Pendidikan Ruhani

Dalam pandangan tasawuf, lapar bukan sekadar kondisi biologis, melainkan pendidikan batin. Rasa lemah mengingatkan manusia akan keterbatasannya. Dahaga menjadi simbol bahwa jiwa pun memerlukan asupan spiritual berupa dzikir dan kesadaran.

Puasa, menurut Musrifah, adalah proses peluruhan ego. Keinginan untuk dipuji, dihormati, dan diakui perlahan dikikis. Dari situlah tumbuh sikap tawadhu dan kesadaran bahwa segala sesuatu bersumber dari Allah SWT.

Dalam kondisi tersebut, seorang hamba mencapai muraqabah—kesadaran penuh bahwa setiap langkah berada dalam pengawasan Ilahi.

Dimensi Sosial yang Tak Terpisahkan

Puasa juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Dengan merasakan lapar, seseorang belajar memahami penderitaan mereka yang hidup dalam kekurangan.

“Empati yang lahir dari puasa bukan teori, melainkan pengalaman langsung. Ibadah yang tidak melahirkan kepedulian sosial, sejatinya belum mencapai kesempurnaan,” ujarnya tajam.

Tasawuf memandang bahwa ibadah harus menghadirkan kelembutan dalam interaksi, kejujuran dalam sikap, dan keadilan dalam tindakan.

Takwa sebagai Tujuan Akhir

Pada akhirnya, tujuan puasa adalah membentuk takwa yang hakiki—kesadaran yang tertanam kuat dalam setiap keputusan hidup. Ketika hati tidak lagi didominasi ambisi fana dan jiwa dipenuhi cinta Ilahi, maka puasa telah mencapai puncaknya.

Puasa tidak lagi terasa berat, melainkan menjadi kebutuhan ruhani yang dirindukan. Ia menjadi jalan sunyi yang justru menghadirkan kebahagiaan sejati—kebahagiaan karena merasakan kedekatan dengan Allah SWT.

“Puasa bukan sekadar menahan diri, tetapi membentuk diri,” pungkas Advokat Musrifah S.Sos, SH.

Pewarta: Diva

Media: Ifaupdatenews.com

Slogan: Tajam, Akurat Sesuai Fakta

Lebih baru Lebih lama