Ifaupdatenews.com
Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk menegaskan kembali posisi strategis pers sebagai pilar demokrasi dan penjaga nurani publik di tengah derasnya arus kepentingan, tekanan kekuasaan, serta tantangan ekstrem dunia jurnalistik modern.
Pimpinan Redaksi Ifaupdatenews.com, Elyas, menegaskan bahwa profesi wartawan adalah kerja intelektual sekaligus kerja moral yang menuntut keberanian, keteguhan prinsip, dan komitmen penuh terhadap kebenaran.
Menurut Elyas, dalam praktiknya, wartawan kerap berada pada posisi paling rentan. Tidak hanya berhadapan dengan penolakan narasumber, tetapi juga intimidasi, ancaman, bahkan kekerasan fisik yang dapat mengancam keselamatan jiwa.
“Di lapangan, wartawan tidak hanya bekerja dengan pena dan kamera, tetapi juga mempertaruhkan nyali. Tekanan, teror, hingga ancaman nyata adalah risiko yang kerap kami hadapi ketika kebenaran dianggap mengganggu kepentingan tertentu,” ujar Elyas, Senin (9/2).
Ia menegaskan bahwa wartawan bukanlah musuh siapa pun. Justru, pers hadir sebagai mitra strategis dalam membangun transparansi, akuntabilitas, dan keadilan sosial.
“Jurnalis bekerja melalui proses yang panjang dan bertanggung jawab: mengamati, menelusuri, memverifikasi, serta menguji fakta sebelum dipublikasikan. Kami tidak menulis berdasarkan asumsi, apalagi pesanan,” tegasnya.
Elyas juga meluruskan stigma keliru yang masih berkembang di sebagian masyarakat, yang menilai wartawan sekadar mencari kesalahan orang lain. Menurutnya, pandangan tersebut tidak hanya menyesatkan, tetapi juga merendahkan esensi kerja jurnalistik.
“Jurnalis bukan pemburu kesalahan. Tugas kami adalah mengungkap fakta, termasuk fakta yang pahit dan tidak menyenangkan, demi kepentingan publik. Negara tanpa wartawan adalah negara yang berjalan dalam kegelapan informasi,” tandasnya dengan nada tegas.
Di era digital yang serba cepat, Elyas mengingatkan bahwa kemudahan teknologi justru melahirkan tantangan baru bagi dunia pers. Maraknya oknum yang mengaku wartawan tanpa kompetensi, etika, dan karya jurnalistik yang jelas dinilai sebagai ancaman serius terhadap marwah profesi.
“Wartawan bermodal kartu identitas tanpa kemampuan menulis, tanpa pemahaman kode etik, dan tanpa tanggung jawab moral hanya akan merusak citra pers. Ini bukan persoalan individu, tetapi menyangkut kehormatan profesi secara kolektif,” ujarnya.
Karena itu, Elyas menekankan pentingnya menjaga integritas, profesionalisme, dan kualitas karya jurnalistik sebagai fondasi utama keberlangsungan pers yang bermartabat.
Khusus bagi jajaran wartawan Ifaupdatenews.com, Elyas menegaskan bahwa integritas adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Kecepatan tidak boleh mengalahkan ketelitian, dan popularitas tidak boleh mengorbankan kebenaran.
“Wartawan Ifaupdatenews.com harus berdiri tegak di atas fakta, bekerja dengan nurani, dan menulis dengan tanggung jawab. Pers yang kuat bukan yang paling bising, tetapi yang paling jujur dan konsisten menjaga kebenaran,” tegasnya.
Melalui momentum Hari Pers Nasional, Elyas mengajak seluruh insan pers untuk kembali meneguhkan jati diri jurnalistik sebagai alat pencerahan, bukan alat kepentingan, serta sebagai pengawal kepentingan rakyat, bukan kepentingan segelintir elite.
“Selamat Hari Pers Nasional. Tetaplah berani berkata benar, meski berisiko. Karena hanya pers yang berintegritas yang layak dipercaya publik,” pungkas Elyas.
(Diva)
