IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” PSI Dinilai Sulit Menjadi Partai Besar, Ini Analisis Tajam Saiful Huda EMS

PSI Dinilai Sulit Menjadi Partai Besar, Ini Analisis Tajam Saiful Huda EMS


Ifaupdatenews.com | Analisis Politik Nasional

Pewarta: Ifa

Jumat, 6 Februari 2026

Wacana kebangkitan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai partai besar dinilai terlalu optimistis dan jauh dari realitas sejarah politik Indonesia. Penilaian tersebut disampaikan oleh analis politik dan pemerhati demokrasi nasional, Saiful Huda Ems (SHE), yang menilai bahwa membesarkan partai politik bukan pekerjaan instan dan tidak bisa disamakan dengan fenomena kekuasaan sesaat.

Menurut Saiful Huda EMS, sejarah menunjukkan bahwa partai besar lahir dari proses panjang, konflik ideologis, serta pertarungan politik yang keras, bukan sekadar mengandalkan figur populer atau momentum kekuasaan.

“Membangun partai politik membutuhkan waktu puluhan tahun, kecuali tokohnya masih menjadi presiden atau menjadi oposisi kuat terhadap kekuasaan,” ujar SHE dalam analisisnya, Jumat (6/2).

Pelajaran dari Megawati, SBY, dan Prabowo

SHE mencontohkan Megawati Soekarnoputri yang memimpin PDI pada 1993–1996 dan kemudian berhadapan langsung dengan rezim Orde Baru. Keberanian politik itu, menurutnya, menjadi faktor penting yang mengantarkan PDIP sebagai pemenang Pemilu 1999 dengan suara spektakuler.

Hal serupa terjadi pada Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ketika masih menjabat presiden, Partai Demokrat tumbuh pesat dan mencapai puncaknya pada Pemilu 2009. Namun, ketika kekuasaan tak lagi berada di tangannya, Demokrat perlahan mengalami penurunan elektoral.

Sementara Partai Gerindra, kata SHE, membutuhkan waktu 16 tahun sejak berdiri pada 2008 untuk benar-benar menjadi partai besar di Pemilu 2024. Itupun, Gerindra masih berada di bawah PDIP yang berhasil mencetak hat-trick kemenangan pemilu sejak 2014.

“Sejarah ini penting agar publik tidak menyamakan begitu saja PDIP dan Gerindra dengan PSI,” tegasnya.

PSI Dinilai Tidak Memiliki Fondasi Kader dan Tradisi Politik

Saiful Huda EMS menilai, sejak awal PSI tidak memiliki basis ideologis, tradisi kaderisasi, maupun pengalaman politik yang matang. Seluruh jajaran elitnya disebut masih didominasi politisi pemula, sehingga sangat sulit diharapkan mampu mengelola konflik, konsolidasi, dan ekspansi politik secara nasional.

“PSI sejak lahir adalah partai kecil. Membayangkan ia menjadi partai besar dalam waktu singkat adalah ilusi politik,” kata SHE.

Ia menegaskan bahwa mengandalkan figur semata tidak cukup, apalagi jika figur tersebut tidak memiliki latar belakang dan pengalaman mengelola partai politik.

Jokowi Bukan Solusi Elektoral Jangka Panjang

PSI, menurut SHE, praktis menggantungkan harapan pada sosok Joko Widodo (Jokowi). Namun ia mengingatkan bahwa Jokowi bukanlah kader ideologis partai dan bukan pula politisi yang tumbuh dari tradisi kepartaian.

“Jokowi adalah figur yang dibesarkan oleh PDIP. Ia bukan lahir dari rahim PSI, dan tidak memiliki pengalaman membangun partai dari nol,” ujarnya.

Lebih jauh, SHE menyoroti penunjukan Kaesang Pangarep sebagai Ketua Umum PSI hanya dalam hitungan hari setelah bergabung sebagai kader. Menurutnya, ini mencerminkan absennya meritokrasi dan kedalaman organisasi.

“Bagaimana mungkin partai bisa dibesarkan oleh orang yang belum pernah memimpin dan mengelola partai politik?” kritiknya tajam.

Tanpa Kekuasaan, PSI Kehilangan Daya Dorong

Saiful Huda EMS juga menegaskan bahwa kondisi Jokowi hari ini sangat berbeda dengan SBY dan Prabowo saat membesarkan partainya. Jokowi sudah tidak lagi menjabat presiden, sehingga tidak memiliki instrumen kekuasaan untuk menopang pertumbuhan PSI.

“PSI kini berdiri tanpa kekuasaan, tanpa basis massa ideologis, dan tanpa kepemimpinan partai yang matang,” ujarnya.

Ia bahkan mempertanyakan masa depan PSI jika hanya mengandalkan simbol, popularitas, dan sensasi tanpa kerja politik serius di akar rumput.

PSI di Persimpangan Jalan

Menutup analisanya, Saiful Huda EMS mempertanyakan arah dan masa depan PSI ke depan. Apakah partai ini akan semakin tenggelam, atau kembali berganti figur tanpa perubahan substansial?

“Jika tidak ada pembenahan serius, PSI berpotensi tetap menjadi partai gurem dengan pergantian ketua umum yang lebih bersifat hiburan politik ketimbang kepemimpinan strategis,” pungkasnya.

Wallahu a’lam bishawab.

Penulis:

Saiful Huda Ems (SHE)

Pemerhati Politik Nasional

Lebih baru Lebih lama