Www ifaupdatenews com
SUMATRA BARAT – Gunung Marapi yang berada di perbatasan Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat, kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang tinggi. Letusan dahsyat yang terjadi pada Sabtu (30/5/2026) memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 2.000 meter di atas puncak, memicu kewaspadaan masyarakat dan aparat terkait di sejumlah wilayah yang berada di sekitar lereng gunung.
Kepulan abu berwarna kelabu pekat terlihat membumbung tinggi ke udara dan dapat disaksikan dari berbagai daerah di sekitar kawasan gunung. Fenomena tersebut menjadi perhatian serius mengingat Gunung Marapi merupakan salah satu gunung api paling aktif di Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir berulang kali mengalami erupsi.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Marapi, letusan terjadi pada pagi hari dan terekam jelas melalui peralatan pemantauan seismik. Abu vulkanik yang keluar dari kawah bergerak mengikuti arah angin dan berpotensi menyebabkan hujan abu di sejumlah daerah yang berada di sekitar kawasan terdampak.
Aktivitas erupsi tersebut langsung mendapat perhatian dari petugas vulkanologi yang terus melakukan pemantauan secara intensif. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan gunung diminta untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak mendekati area yang telah ditetapkan sebagai zona berbahaya.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Api Marapi mengingatkan bahwa keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya aktivitas vulkanik.
"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tidak mengabaikan potensi bahaya yang dapat terjadi sewaktu-waktu. Warga diminta tidak memasuki kawasan radius bahaya yang telah ditetapkan serta selalu mengikuti informasi resmi dari instansi terkait," ujar petugas dalam laporan pemantauan aktivitas Gunung Marapi.
Selain ancaman hujan abu vulkanik, warga yang berada di sekitar aliran sungai yang berhulu dari puncak Gunung Marapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir lahar, terutama apabila turun hujan dengan intensitas tinggi. Material vulkanik yang menumpuk di lereng gunung berpotensi terbawa aliran air dan menimbulkan dampak yang membahayakan permukiman penduduk.
Sejumlah warga mengaku sempat terkejut saat melihat kolom abu menjulang tinggi dari puncak gunung. Beberapa di antaranya memilih membatasi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker guna menghindari dampak paparan abu vulkanik terhadap kesehatan.
Salah seorang warga di sekitar kawasan terdampak mengatakan bahwa letusan kali ini terlihat cukup besar dibandingkan beberapa aktivitas sebelumnya.
"Kami melihat asap dan abu membumbung sangat tinggi dari puncak gunung. Warga langsung saling mengingatkan agar berhati-hati dan mengikuti arahan petugas," ungkapnya.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, serta instansi terkait lainnya terus melakukan koordinasi guna memastikan kondisi masyarakat tetap aman. Pemantauan terhadap perkembangan aktivitas Gunung Marapi juga dilakukan secara berkelanjutan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya erupsi susulan.
Hingga berita ini diturunkan, status Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan dilarang memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius yang telah ditetapkan oleh otoritas vulkanologi.
Peristiwa erupsi yang kembali terjadi ini menjadi pengingat bahwa Indonesia sebagai negara yang berada di jalur Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) memiliki tingkat aktivitas geologi yang sangat tinggi. Karena itu, kesiapsiagaan, kepatuhan terhadap imbauan pemerintah, serta kecepatan informasi menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko bencana yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas gunung api.
Masyarakat diharapkan tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi dan selalu mengikuti perkembangan resmi dari Pos Pengamatan Gunung Api, PVMBG, maupun BPBD setempat. Dengan kewaspadaan dan kerja sama seluruh pihak, dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas vulkanik dapat diminimalisir sehingga keselamatan warga tetap terjaga.
Pewarta : Ifa
Editor : Redaksi Ifa Update News
