BANTEN, IFAUPDATENEWS.COM – Kisah menyentuh datang dari dunia pendidikan Indonesia. Seorang guru honorer di salah satu SMA di Provinsi Banten, Bu Ijah, menjadi perbincangan publik setelah mengungkap besaran gaji terakhir yang diterimanya usai mengabdi selama kurang lebih 40 tahun sebagai tenaga pendidik.
Melalui unggahan yang viral di media sosial, Bu Ijah memperlihatkan bukti gaji terakhir yang diterimanya, yakni sebesar Rp414 ribu sebelum resmi mengakhiri masa pengabdiannya pada Juni 2026.
Unggahan tersebut mengundang simpati luas dari masyarakat. Banyak yang menilai besaran gaji itu tidak sebanding dengan dedikasi panjang yang telah ia berikan dalam mendidik generasi bangsa.
"Unggahan ini bukan untuk pamer ataupun mencari belas kasihan. Saya hanya ingin menunjukkan kenyataan yang saya alami selama puluhan tahun mengabdi sebagai guru honorer," ungkap Bu Ijah dalam keterangannya.
Bu Ijah juga menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun dirinya tetap menjalankan tugas sebagai pendidik dengan penuh tanggung jawab meski menerima penghasilan yang sangat terbatas.
"Saya tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anak didik saya. Mengajar adalah bentuk pengabdian yang saya jalani dengan tulus," ujarnya.
Kisah tersebut kemudian memantik berbagai tanggapan dari masyarakat. Banyak warganet menyampaikan rasa hormat atas dedikasi Bu Ijah, sekaligus mempertanyakan masih adanya guru honorer yang menerima penghasilan sangat minim meski telah mengabdi selama puluhan tahun.
Pengamat pendidikan menilai persoalan kesejahteraan guru honorer masih menjadi tantangan besar yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah. Mereka menilai peningkatan kualitas pendidikan harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan para tenaga pendidik.
Besarnya anggaran pendidikan yang setiap tahun dialokasikan pemerintah juga kembali menjadi sorotan publik. Berbagai kalangan berharap anggaran tersebut dapat semakin dirasakan manfaatnya oleh para guru honorer yang selama ini menjadi ujung tombak pendidikan di berbagai daerah.
Di penghujung masa pengabdiannya, Bu Ijah mengaku bersyukur telah diberi kesempatan mendidik ribuan siswa selama puluhan tahun, meski perjalanan itu penuh dengan keterbatasan.
"Saya berharap ke depan nasib guru honorer bisa lebih baik, sehingga mereka dapat mengabdi dengan tenang tanpa harus dibayangi persoalan kesejahteraan," tutupnya.
Kisah Bu Ijah menjadi potret nyata bahwa masih banyak guru honorer yang berjuang dengan penuh ketulusan demi mencerdaskan kehidupan bangsa. Harapan besar pun muncul agar kisah ini menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pemangku kebijakan dalam mewujudkan kesejahteraan yang lebih adil bagi para tenaga pendidik di Indonesia.
Pewarta: Ifa
