Www ifaupdatenews com
Sultra,Kendari- Gerakan Persatuan Mahasiswa Indonesia (Gpmi) menyoroti Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Dan Kebudayaan (Dikbud) Sulawesi Tenggara (Sultra) dugaan fee 4%, Dugaan Mark up proyek, Dugaan penghilangan aset parkiran, saudara di duga mengerjakan proyek.
"Ada banyak dugaan masalah yang mulai terendus di Dikbud Sultra yang pertama itu persoalan proyek pelayanan satu pintu di gedung dikbud sultra yang menelan anggaran Rp.241.000.000- itu sangat tidak masuk akal itu di duga Mark up anggaran masa hanya 5 meja yang terbuat dari triplek dan Hpl semahal itu sangat tidak wajar dan tidak masuk diakal, yang kedua Persoalan Parkiran pafing blok Dikbud Sultra yang di bongkar padahal dipakai kurang lebih 1 tahun yaitu 2024 di bongkar tahun 2026 ini sungguh ironis dan di kategorikan penghilangan aset negara, kadis pendidikan harus bertanggung jawab dan tidak pantas menjadi Pimpinan OPD Dikbud sultra, kejati sultra harus segera memeriksa PPTK dan Kepala Dinas, yang ketiga adalah desas desus itu fee 4% anggaran revitalisasi sekolah dinama anggaran ini pernah di sebut oleh wakil gubernur sultra dan sempat menjadi polemik saling singgah di media sosial antara Wagub dan Kadis Dikbud sultra, saat ini telah beredar isu tentang fee 4% tersebut, juga muncul kecurigaan bahwa saudara dari Kadis Dikbud memiliki dua saudara yang sebelumnya bertugas di bagian kolaka dan sekarang di tarik bertugas di Kantor Dikbud sultra dan saudara kadis dikbud yang mempunyai latar belakang kontraktor di duga mengelola proyek di Dikbud Sultra oleh karena itu kami desak Gubernur Sultra untuk segera copot kadis dikbud sultra". Ungkap Asrul Kader GPMI
GPMI menjelaskan bahwa mereka akan melakukan aksi damai mendesak Gubernur Sultra segera mencopot Kadis Dikbud Sultra dan Kejati Sultra agar segera memeriksa Kadis Pendidikan Sultra.
"Dalam waktu ini kami akan bertandang di kantor Gubernur Sultra dan kejati Sultra agar kepala dinas segera di ganti dan kejati sultra segera memeriksa kepala dinas, kami pastikan kadis kali ini akan segera di panggil". Ujar Asrul
Pewarta ALF
