Ifaupdatenews.com —
Di tengah riuh rendah kehidupan modern yang kerap menilai manusia dari kecerdasan semata, Joko Tri3 Cakra Kembar hadir dengan kegelisahan yang jujur sekaligus tajam: benarkah pintar selalu sejalan dengan kebijaksanaan?
Melalui refleksi batin yang dituangkan dalam karya sastra bertajuk “Dua Sisi Mata”, Joko Tri3 Cakra Kembar menyuarakan perenungan mendalam tentang dua kualitas utama manusia—pintar dan bijak—yang kerap dianggap serupa, namun sesungguhnya berjalan di jalur yang berbeda.
“Pintar melihat dunia, bijak melihat diri,” menjadi benang merah pemikiran yang mengalir kuat dalam refleksi tersebut. Pintar, dalam pandangan Joko, adalah kemampuan membaca realitas, menganalisis persoalan, dan menemukan solusi secara rasional. Namun bijak melampaui itu semua—ia menyentuh wilayah nurani, keheningan batin, dan keberanian untuk bercermin pada diri sendiri.
Dalam konteks kehidupan yang sarat tekanan, persaingan, dan ambisi, Joko Tri3 Cakra Kembar menilai banyak manusia terjebak pada keinginan untuk tampil unggul secara intelektual, namun lupa membangun kedewasaan emosional dan spiritual. Akibatnya, lahirlah kecerdasan tanpa empati, kepintaran tanpa keteduhan, serta keputusan cepat yang miskin kebijaksanaan.
Refleksi ini bukan sekadar puisi, melainkan kritik sosial yang halus namun menghujam. Joko menggambarkan kehidupan sebagai badai yang tak terelakkan. Di sana, kepintaran memang diperlukan untuk bertahan, tetapi kebijaksanaanlah yang menentukan arah agar manusia tidak kehilangan jati diri.
“Dua sifat jiwa, seperti dua sisi mata,” tulisnya—sebuah metafora kuat yang menggambarkan bahwa manusia tidak cukup hanya melihat keluar, tetapi juga wajib menengok ke dalam. Tanpa keseimbangan keduanya, manusia mudah terjebak dalam kelelahan batin dan kekosongan makna.
Lebih jauh, Joko Tri3 Cakra Kembar menegaskan bahwa kesempurnaan manusia bukan terletak pada memilih salah satu, melainkan menyatukan keduanya. Pintar yang dibingkai kebijaksanaan akan melahirkan keputusan yang adil, sikap yang elegan, serta jiwa yang utuh dan harmonis.
Di persimpangan jiwa, sebagaimana digambarkan dalam refleksinya, manusia selalu dihadapkan pada pilihan: menjadi pintar yang ingin menang, atau bijak yang ingin mengerti. Namun Joko menawarkan jalan ketiga—menjadi manusia yang mampu memahami dunia tanpa kehilangan nurani.
Narasi ini menjadi pengingat kuat bahwa di tengah derasnya arus zaman, manusia perlu berhenti sejenak, mendengar suara hatinya, dan menyeimbangkan dua sisi mata yang dianugerahkan Tuhan. Karena pada akhirnya, kecerdasan akan memandu langkah, tetapi kebijaksanaanlah yang menjaga arah.
Pewarta: Ifa
Editor: Redaksi Ifaupdatenews.com

