Ifaupdatenews.com
Di tengah riuh dunia yang semakin bising oleh kepentingan dan kepalsuan, ada suara lirih yang nyaris tenggelam—suara hati manusia yang terluka, namun tetap setia pada cinta dan nurani. Suara itu datang dari perenungan batin seorang musafir kehidupan, Joko Tri3 Cakra Kembar, yang menuliskan jeritan sunyinya dalam doa paling jujur: “Tuhan, dekap aku dalam kesunyian.”
Narasi ini bukan sekadar ungkapan rasa, melainkan kesaksian batin tentang manusia-manusia yang hidup di lorong gelap peradaban, namun justru menyimpan cahaya kemanusiaan yang kian langka. Dalam perjalanannya, ia menemukan cinta bukan di gedung megah atau mimbar kekuasaan, melainkan di wajah-wajah letih para pengamen, pengemis, pencuri kecil, pencopet, hingga pemabuk jalanan—mereka yang sering dilabeli hina, namun masih mampu berbagi kepada sesamanya.
“Mereka tak lagi peduli pada dirinya sendiri, tetapi masih peduli pada saudaranya,”
sebuah kalimat sederhana yang menampar keras nurani publik.
Luka Batin di Tengah Kebisingan Kekuasaan
Tulisan ini merekam kekecewaan mendalam terhadap penguasa yang tuli, yang menindas tanpa mau mendengar suara hati. Pengkhianatan demi pengkhianatan dilakukan atas nama kepentingan umat, namun pada hakikatnya hanyalah bualan yang dibungkus retorika kebaikan.
Di sinilah luka itu bermula—luka yang tidak berdarah, tetapi membekas sepanjang hidup. Luka akibat matinya hati nurani, yang tak mampu lagi diobati oleh waktu.
“Berharap saja sama Tuhan, karena mereka hanyalah manusia biasa,”
gumam hati dalam kesunyian yang panjang.
Cinta yang Menyamar Menjadi Kebencian
Yang paling menyentuh dari narasi ini adalah keberanian mengakui bahwa kebencian terdalam sering kali lahir dari cinta yang paling tulus. Bukan karena ingin membenci, melainkan karena cinta itu dikhianati, diremehkan, dan dipatahkan tanpa belas kasih.
Air mata menjadi saksi bisu, bukan untuk mencari iba, melainkan sebagai penanda bahwa hati itu masih hidup—masih mampu merasakan, meski berkali-kali dilukai.
Kesunyian sebagai Ruang Bertemu Tuhan
Bulan dan bintang yang meredup dalam narasi ini bukanlah tanda akhir, melainkan simbol perjalanan batin yang melelahkan. Kesunyian menjadi ruang paling jujur untuk berserah, ketika semua lukisan kehidupan mulai kehilangan bentuknya.
Namun satu keyakinan tetap tegak:
Tuhan tidak pernah tidur.
Ia menyaksikan segalanya, hingga tiba saat manusia kembali ke pangkuan-Nya.
Catatan Redaksi
Tulisan reflektif ini adalah potret kejujuran jiwa di tengah zaman yang gemar memoles kepalsuan. Ia mengajarkan bahwa cinta tidak selalu berakhir bahagia, tetapi selalu meninggalkan makna. Dan luka, sejauh apa pun, adalah bagian dari kesaksian hidup manusia yang masih memiliki nurani.
Pewarta: Ifa
Media: Ifaupdatenews.com
