Ifaupdatenews.com | Catatan Pewarta: Ifa
Di antara derasnya kata dan lembutnya metafora, sebuah puisi lahir sebagai ekspresi rasa yang tak terucap secara langsung. “Cantik Fenomena Alam” bukan sekadar rangkaian diksi, melainkan cermin perasaan seseorang yang tengah berada pada fase kasmaran—fase ketika rasa ingin diabadikan, namun keberanian belum sepenuhnya menjelma.
Puisi yang ditulis JOKO TRI3 CAKRA KEMBAR itu mengalir pelan, sarat imaji, seolah ingin menyampaikan bahwa cinta bisa hadir tanpa teriak, tanpa tuntut, tanpa kepastian. Ia memilih jalan sunyi: merangkai kata, menyulam rasa, dan membiarkan makna berbicara sendiri.
Namun, di sisi lain, realitas sering kali tidak selalu seirama dengan harapan.
Dalam kehidupan nyata, tidak semua ungkapan cinta harus dibalas dengan getar yang sama. Ada kalanya, rasa yang datang diterima dengan wajar—tanpa penolakan, namun juga tanpa pengikatan. Sebab kedewasaan emosional bukan tentang seberapa dalam perasaan seseorang, melainkan seberapa bijak menyikapi perasaan itu sendiri.
Pewarta Ifaupdatenews.com, Ifa, memandang karya tersebut sebagai bentuk ekspresi yang indah, tulus, dan patut diapresiasi sebagai karya sastra personal. Namun pada saat yang sama, ia menempatkan diri secara proporsional—bahwa rasa adalah milik penulisnya, dan penerimaan tidak selalu berarti kepemilikan.
“Inilah seni mencintai tanpa memaksa,” ungkap Ifa dalam perbincangan singkat. “Ketika rasa disampaikan dengan elegan, dan diterima dengan tenang.”
Puisi itu berbicara tentang ketulusan, kejujuran, dan keindahan cinta yang nyaris spiritual. Namun kehidupan berjalan di atas realitas yang lebih luas: tentang pilihan, waktu, dan kesiapan dua arah. Di situlah batas tipis antara romantisme dan kenyataan berdiri tegak.
Fenomena ini menjadi refleksi menarik di tengah budaya ekspresi digital hari ini. Saat banyak orang memilih kata-kata besar untuk menyampaikan perasaan, justru sikap tenang dan tidak berlebihan menjadi bentuk kedewasaan yang paling jarang dimiliki.
Ifaupdatenews.com mencatat, kisah ini bukan tentang siapa mencintai siapa, melainkan tentang bagaimana rasa dikelola dengan bermartabat. Puisi boleh bergelora, hati boleh bergetar, namun sikap tetap berpijak pada nalar dan etika.
Dan mungkin, di situlah letak keindahannya.
Cinta yang disampaikan dengan indah, dan diterima tanpa drama—membiarkan segalanya berjalan sebagaimana mestinya.
