ifaupdatenews.com — Surabaya | Pewarta: IFA
Gelombang desakan publik untuk membersihkan institusi kepolisian dari praktik sewenang-wenang kembali menguat. Kali ini, tekanan datang dari Ormas Madura Asli Sedarah (MADAS) bersama LBH Madura Asli Sedarah yang akan menggelar aksi demonstrasi di depan Mapolda Jawa Timur, Surabaya, sebagai respons atas dugaan salah tangkap dan penganiayaan terhadap seorang warga bernama Muhammad Rifai oleh oknum anggota Polres Tuban.
Aksi tersebut dijadwalkan pada:
Hari/Tanggal : Senin, 8 Desember 2025
Waktu : 13.00 WIB
Lokasi : Depan Mapolda Jawa Timur, Surabaya
Gerakan turun jalan ini bukan hanya bentuk protes, tetapi juga seruan moral kepada aparat penegak hukum agar tidak menyalahgunakan kewenangan. MADAS bersama LBH Madura Asli Sedarah, selaku tim kuasa hukum resmi korban, menilai kasus dugaan salah tangkap tersebut merupakan potret nyata bahwa reformasi Polri masih berjalan pincang jika tidak diiringi pengawasan serius dan evaluasi menyeluruh.
Latar Belakang: Ketika Kewenangan Berubah Menjadi Jerat
Muhammad Rifai, warga yang kini menjadi sorotan publik, diduga mengalami perlakuan tidak manusiawi setelah ditangkap secara keliru oleh oknum aparat Polres Tuban. Alih-alih dilindungi, Rifai justru mengalami nasib sebaliknya — diperlakukan bukan sebagai warga negara yang berhak atas praduga tak bersalah, tetapi sebagai objek represif tanpa dasar yang kuat.
Belum adanya tindakan tegas maupun pernyataan resmi dari pimpinan kepolisian memperpanjang kekecewaan keluarga dan publik. Inilah yang kemudian memantik MADAS untuk mengambil sikap terbuka.
“Kami tidak ingin kasus ini tenggelam dan berakhir tanpa kejelasan. Aparat adalah pengayom rakyat, bukan sebaliknya,” tegas perwakilan MADAS dalam keterangan pers internal.
Isi Tuntutan Aksi: Langkah Tegas, Reformasi Total
Dalam aksi nanti, peserta akan membawa sejumlah tuntutan utama, di antaranya:
1. Mendesak Kapolda Jawa Timur mencopot Kapolres Tuban beserta seluruh oknum yang terlibat dalam dugaan salah tangkap dan penganiayaan Rifai.
2. Menolak impunitas dan meminta proses hukum dilakukan secara transparan tanpa pandang bulu.
3. Meminta Tim Reformasi Polri turun tangan langsung mengawal penanganan perkara ini.
4. Menuntut evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Satuan Reserse Polres se-Indonesia, mengingat indikasi penyimpangan yang terus berulang.
5. Mengingatkan bahwa tindakan aparat yang sewenang-wenang adalah ancaman nyata bagi supremasi hukum dan kepercayaan rakyat terhadap Polri.
Aksi ini dipastikan akan menjadi momentum penting untuk menguji komitmen Polri dalam menjalankan reformasi. Bila tuntutan masyarakat diabaikan, bukan tidak mungkin isu ini menjadi bara protes yang lebih luas.
MADAS: Kami Datang Untuk Keadilan, Bukan Perang
Dalam pernyataan sikapnya, MADAS menyebut aksi ini tidak bertujuan menyerang institusi kepolisian, tetapi mengembalikan marwah Polri sebagai pelindung masyarakat.
“Negara hukum tidak boleh memberi ruang bagi tindakan brutal aparat. Bila satu warga diperlakukan sewenang-wenang, maka itu bukan kasus personal, melainkan alarm bahaya bagi demokrasi,” tulis MADAS dalam undangan terbuka kepada media.
Seruan kepada insan pers pun menjadi bagian penting dari aksi ini. Media diminta hadir, menyaksikan, dan menyuarakan fakta apa adanya di lapangan — sebab tanpa publikasi, keadilan dapat mati pelan-pelan.
Aksi Senin besok ditunggu menjadi cermin keberpihakan hukum: pada rakyat atau pada pelanggaran prosedur? Dunia pers, publik, dan pemerhati hukum akan melihat.
ifaupdatenews.com akan mengawal perkembangan kasus ini secara berkala, termasuk hasil aksi serta respons resmi dari Polda Jawa Timur.
Pewarta: IFA – ifaupdatenews.com
Berita tajam – akurat – sesuai fakta lapangan.
