Selasa, 10 Desember 2025 ,IfaupdateNews.com — Pewarta: Ifa
Di tengah gelombang duka yang menyelimuti Sumatera akibat banjir dan longsor besar, publik tak hanya terpukul oleh banyaknya korban jiwa, tetapi juga oleh sebuah frasa yang kini menggema: bencana tanda tangan. Bukan sekadar bencana alam, melainkan bencana akibat administrasi yang terlambat, keputusan yang tersendat, dan dokumen yang tak segera diteken. Ketika air bah merendam pemukiman, para korban menunggu bantuan yang lambat datang karena birokrasi lebih pelan dari derasnya arus sungai.
Di antara puing rumah yang hanyut, wajah-wajah pucat kehilangan keluarga, dan doa yang mengering di bibir para penyintas, hanya tiga pejabat negara yang tampil menundukkan kepala dan berkata: “maaf.” Satu kata sederhana namun langka dalam peta moral negeri ini.
Letjen TNI Suharyanto, Kepala BNPB, menjadi yang pertama meminta maaf setelah melihat kenyataan menyakitkan: 940 korban meninggal (Aceh 382, Sumut 330, Sumbar 228), 276 hilang, dan lebih dari 5.000 luka-luka. Pernyataannya sebelumnya bahwa situasi "mencekam hanya di media sosial" terbantahkan oleh tumpukan kantong jenazah yang ia saksikan sendiri.
Pejabat kedua, Menko PMK Pratikno, pada 3 Desember 2025 mengakui bahwa negara belum maksimal menangani bencana ini. Kerusakan besar tercatat: 655 fasilitas umum, 72 fasilitas kesehatan, 383 sekolah, 200 rumah ibadah, 29 gedung kantor, serta 64 jembatan. Ketika banyak pejabat memilih diam, Pratikno menyuarakan kejujuran yang jarang terdengar dalam panggung birokrasi.
Lalu hadir pejabat ketiga yang tak pernah publik duga. Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, justru tampil dengan nada paling manusiawi. Bersama Nagita Slavina, ia meminta maaf kepada korban banjir Sumatera bukan karena ia bersalah, tapi karena merasa seharusnya hadir lebih cepat untuk rakyat yang luluh lantak. Tidak hanya maaf — ia mengirimkan Rp15 miliar bantuan pribadi, dibagi merata untuk Sumbar, Sumut, dan Aceh masing-masing Rp5 miliar. Bantuan diserahkan melalui manajernya, Prio, dan diterima pejabat daerah terkait.
Dalam video call yang diunggah Wagub Sumbar Vasco Ruseimy, Raffi kembali berkata, "Maaf kami belum ke sana." Ia berjanji akan hadir memberi dukungan psikososial dan menemani penyintas bangkit dari trauma. Ucapannya sederhana, tapi terasa lebih hangat daripada pidato resmi yang dingin dan berjarak.
Namun pahitnya realita tetap tertinggal. 940 jiwa sudah tiada, ratusan hilang, ribuan terluka. Dalam bencana tanda tangan yang memakan korban begitu besar, hanya tiga pejabat negara yang berani menyampaikan permintaan maaf.
Bukan pada mereka yang meminta maaf kita kecewa —
tetapi pada yang tidak.
Puisi Luka Bencana
Korban hanyut di sungai kelam
Raffi datang membawa maaf
Negeri pilu menunggu salam
Bencana tanda tangan pun genap
Banjir datang membawa derita,
Langit kelabu menangis perlahan.
Raffi minta maaf pada yang luka,
Di tengah bencana tanda tangan.
