IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” Rakyat Aceh Menjerit: “Jangan Ajarkan Kami Kata Sabar, Pak Presiden”

Rakyat Aceh Menjerit: “Jangan Ajarkan Kami Kata Sabar, Pak Presiden”


IFAUPDATENEWS.COM | ACEH – Luka lama itu kembali terbuka. Di tanah Aceh, yang pernah luluh lantak oleh tsunami 2004, suara kekecewaan kini menggema lebih keras daripada deru banjir dan bencana yang kembali melanda. Kali ini, bukan hanya alam yang disorot, melainkan sikap negara yang dinilai lamban, defensif, dan jauh dari ketegasan yang pernah dicontohkan sejarah.

Pernyataan Presiden yang meminta rakyat untuk “bersabar” dalam menghadapi bencana menuai reaksi keras, khususnya dari masyarakat Aceh. Bagi mereka, kata sabar bukanlah nasihat kosong, melainkan nilai hidup yang telah mendarah daging sejak lahir. Namun, sabar tidak berarti pasrah terhadap kelambanan dan minimnya keberpihakan kebijakan.

“Jangan ajarkan kami kata sabar,” demikian suara yang kini mewakili perasaan banyak warga. “Sabar bukan tugas Presiden. Sabar adalah urusan iman kami.”

Kilas Balik Tsunami 2004: Ketegasan yang Menyelamatkan Nyawa

Masyarakat Aceh tak lupa sejarah. Saat tsunami 2004 menghantam, Aceh lumpuh total. Jaringan komunikasi terputus, ribuan nyawa melayang, dan negara berada dalam situasi paling genting. Namun di tengah kekacauan itu, satu figur bergerak cepat: Jusuf Kalla.

Tanpa menunggu sorotan kamera, tanpa rapat berlapis dan administrasi berbelit, Jusuf Kalla—yang saat itu bukan Presiden—langsung mengambil keputusan besar. Ketika laporan awal menyebutkan korban mencapai ribuan, ia memilih bertindak, bahkan jika harus “menabrak aturan”. Baginya, menyelamatkan nyawa manusia jauh lebih penting daripada menjaga prosedur tetap rapi di atas kertas.

Keputusan cepat itulah yang hingga kini dikenang rakyat Aceh sebagai wujud kepemimpinan nyata dalam situasi krisis.


Ironi Kepemimpinan Hari Ini

Dua dekade berlalu. Indonesia kini dipimpin oleh seorang Presiden dengan latar belakang militer, dengan kewenangan penuh di tangannya. Namun ironinya, ketegasan yang dulu muncul dari seorang Wakil Presiden justru terasa absen dari pucuk kekuasaan tertinggi negara saat ini.

Ketika dunia internasional mendesak dan menyoroti situasi bencana di Sumatra, Presiden dengan lantang menyatakan, “Indonesia bisa menanganinya.” Namun saat rakyat menuntut percepatan dan kehadiran negara yang lebih nyata, jawaban yang muncul justru: “Sabar, pemerintah tidak punya tongkat Musa.”

Pernyataan inilah yang memicu kemarahan. Bukan karena rakyat menuntut keajaiban, melainkan karena mereka menuntut keseriusan, keberanian mengambil risiko politik, dan ketegasan memotong jalur birokrasi demi keselamatan rakyat.


Aceh: Teruji oleh Bencana, Bukan oleh Kesabaran

Aceh bukan wilayah yang asing dengan bencana. Gempa, tsunami, banjir, dan konflik telah menempa mental masyarakatnya. Namun ketahanan itu tidak boleh dijadikan alasan untuk menormalisasi kelambanan negara.

“Cukup para kiai dan ustaz yang menyirami rohani kami,” ujar seorang tokoh masyarakat Aceh. “Presiden tidak perlu menggantikan peran itu. Tugas Presiden adalah memastikan negara hadir secara nyata.”

Kritik juga diarahkan pada lingkaran kekuasaan yang dinilai terlalu nyaman, penuh pembenaran, dan lebih sibuk merawat citra daripada menyelesaikan masalah di lapangan.


Peringatan Keras dari Ujung Barat Indonesia

Masyarakat Aceh berharap bencana yang kini melanda Sumatra tidak menjalar ke wilayah lain. Namun jika prediksi BMKG benar, dan kesiapan negara tetap seperti saat ini, kekhawatiran besar pun muncul.

“Dengan kondisi kepemimpinan seperti sekarang, Indonesia bisa saja hanya tinggal nama,” ujar salah satu pernyataan keras yang beredar luas di masyarakat.

Ini bukan ancaman, bukan pula ujaran kebencian. Ini adalah peringatan dari daerah yang pernah menjadi saksi bisu salah satu tragedi kemanusiaan terbesar di dunia—dan juga saksi bahwa kepemimpinan tegas mampu menyelamatkan jutaan harapan.


Negara Diuji Bukan oleh Alam, tapi oleh Keputusan

Bencana adalah takdir, tetapi cara negara merespons adalah pilihan. Rakyat Aceh tidak meminta mukjizat, tidak menuntut tongkat Musa. Mereka hanya menuntut keberanian mengambil keputusan, kecepatan bertindak, dan empati yang diwujudkan dalam kebijakan nyata.

Sejarah telah mencatat: di saat krisis, pemimpin sejati tidak menyuruh rakyat bersabar—ia bergerak lebih dulu.


Pewarta: Ifa

Editor: Redaksi Ifaupdatenews.com

Lebih baru Lebih lama