Ifaupdatenews.com | Opini & Analisis
Pewarta: Ifa
13 Desember 2025
Sebuah seruan moral yang keras, panjang, dan tanpa tedeng aling-aling dilontarkan Saiful Huda Ems (SHE)—tokoh yang pernah berada di jantung barisan relawan pendukung Joko Widodo. Melalui sebuah tulisan bernada reflektif sekaligus konfrontatif, mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat HARIMAU JOKOWI itu menyerukan satu kata yang jarang muncul dalam politik kekuasaan: tobat.
Tulisan berjudul “TOBATLAH PAK JOKOWI” tersebut bukan sekadar kritik politik biasa. Ia hadir sebagai pengakuan batin, gugatan etika, dan peringatan moral, yang diarahkan langsung kepada Joko Widodo—mantan Presiden Republik Indonesia dua periode—yang kini telah menyelesaikan masa jabatannya.
Dari Pendukung Loyal Menjadi Pengkritik Terbuka
Saiful Huda EMS bukan figur luar yang asing dengan Jokowi. Ia menegaskan posisinya sebagai mantan ketua umum organ relawan, yang pada masanya berdiri di garda depan membela dan mengampanyekan Jokowi. Karena itu, kritik yang ia sampaikan tidak datang dari ruang kosong, melainkan dari kedekatan sejarah politik yang berubah menjadi kekecewaan mendalam.
“Saya selalu siap mendukung ketika benar dan mengkritik bahkan melawan kalau Pak Jokowi salah,” tulis SHE dalam pernyataannya.
Bagi SHE, kritik ini bukan pengkhianatan, melainkan konsekuensi moral dari keberpihakan pada kebenaran. Ia menyebut, loyalitas sejati kepada bangsa bukanlah membenarkan kesalahan, melainkan berani bersuara ketika kekuasaan menyimpang.
Gugatan Etika atas Kekayaan dan Kekuasaan
Salah satu bagian paling tajam dalam tulisan tersebut adalah pertanyaan etis mengenai akumulasi kekayaan keluarga Jokowi. SHE menyoroti ketidakwajaran logika bisnis yang, menurutnya, tidak sebanding dengan lonjakan nilai kekayaan.
Ia tidak menyodorkan vonis hukum, namun menggugat akal sehat publik—sebuah pendekatan yang lazim dalam kritik moral dan politik.
“Ini sangat tidak logis dan tidak lazim, kecuali semuanya didapat dengan menyelewengkan kekuasaan,” tulisnya.
Dalam konteks jurnalistik, pernyataan ini merupakan opini pribadi penulis, yang mencerminkan keresahan sebagian masyarakat terkait akuntabilitas pascakekuasaan, terutama di negara dengan sejarah panjang korupsi struktural.
Seruan Tobat sebagai Bahasa Politik yang Langka
Menariknya, SHE tidak menggunakan bahasa revolusi atau ancaman massa. Ia memilih diksi religius dan filosofis: husnul khatimah, su’ul khatimah, dan ajakan untuk meminta maaf kepada rakyat.
Seruan “tobat” di sini bukan semata-mata religius, tetapi bahasa etika publik—sebuah panggilan agar kekuasaan tidak hanya diukur dari pencapaian fisik, melainkan juga dari pertanggungjawaban moral.
“Mumpung masih sadar, mintalah maaf yang sebesar-besarnya pada rakyat,” tulisnya.
Pesan ini menempatkan Jokowi bukan hanya sebagai mantan presiden, tetapi sebagai manusia biasa yang kelak akan menghadapi pengadilan sejarah dan Tuhan.
Antara Putra Bangsa dan Pengadilan Sejarah
Dalam bagian penutup, SHE menggunakan diksi yang keras namun filosofis: pilihan antara menjadi putra bangsa yang baik atau menghadapi hukuman negara atau keadilan Tuhan. Ini bukan ancaman, melainkan refleksi tentang konsekuensi kekuasaan—bahwa jabatan setinggi apa pun tak membebaskan seseorang dari tanggung jawab akhir.
Ia menutup dengan semboyan klasik pencerahan: Sapere aude!—beranilah berpikir sendiri.
Catatan Redaksi
Redaksi Ifaupdatenews.com memandang tulisan Saiful Huda EMS sebagai ekspresi opini personal yang sah dalam ruang demokrasi, sekaligus cermin kegelisahan publik terhadap transparansi dan etika pascakekuasaan.
Pemberitaan ini tidak dimaksudkan sebagai tuduhan hukum, melainkan sebagai bagian dari diskursus publik yang sehat. Redaksi membuka ruang hak jawab bagi pihak-pihak yang disebutkan, sesuai dengan Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999.
Dalam demokrasi, kritik—betapapun kerasnya—adalah alarm. Dan alarm hanya berbunyi ketika ada sesuatu yang dianggap perlu disadari bersama.
