IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” CATATAN KEABADIAN DAN TANGGUNG JAWAB MORAL MANUSIA Refleksi Spiritual Saiful Huda Ems tentang Hidup, Kebaikan, dan Keberanian Melawan Kejahatan

CATATAN KEABADIAN DAN TANGGUNG JAWAB MORAL MANUSIA Refleksi Spiritual Saiful Huda Ems tentang Hidup, Kebaikan, dan Keberanian Melawan Kejahatan


Ifaupdatenews.com | Opini & Refleksi

Pewarta: Ifa

Jakarta, 24 Januari 2026

Di tengah hiruk pikuk dunia yang kian bising oleh ambisi, pencitraan, dan perebutan pengaruh, sebuah tulisan reflektif karya Saiful Huda Ems (SHE) hadir sebagai jeda batin yang menohok sekaligus menenangkan. Tulisan berjudul “Catatan di Hati Terdalam” itu bukan sekadar renungan spiritual, melainkan peringatan keras tentang makna hidup, tanggung jawab moral, dan arah kemanusiaan yang kerap dilupakan manusia modern.

Dengan bahasa yang jernih namun tajam, Saiful Huda Ems mengajak pembaca menengok ulang satu pertanyaan mendasar: apa yang benar-benar tersisa setelah manusia meninggalkan dunia? Bukan kemegahan, bukan pujian, apalagi kekuasaan—melainkan jejak kebaikan yang ditanamkan pada sesama manusia dan pada bumi yang ditinggali.

“Setelah perjamuan di dunia ini tak ada lagi yang dapat membuat kita tersenyum di alam sana, kecuali kebaikan yang telah kita lakukan untuk orang lain dan bumi yang kita tempati,” tulis SHE dalam refleksinya.

Relasi Vertikal Tak Cukup Tanpa Relasi Sosial

Salah satu penekanan penting dalam tulisan tersebut adalah kritik halus namun tegas terhadap praktik keberagamaan yang terjebak pada simbol dan ritual, tetapi abai terhadap nilai kemanusiaan dan ekologi. SHE menegaskan bahwa relasi manusia dengan Tuhan tidak bisa dilepaskan dari relasi manusia dengan sesama dan dengan alam.

Menurutnya, komunikasi dengan Tuhan tidak dibatasi ruang dan waktu, namun ketulusan iman justru diuji dalam sikap sosial dan tanggung jawab ekologis. Sebuah pesan yang relevan di tengah maraknya paradoks: rajin beribadah, tetapi lalai menegakkan keadilan dan kepedulian.

Kebaikan sebagai Anugerah, Kejahatan sebagai Pilihan

Dalam refleksi yang bernuansa teologis sekaligus filosofis, SHE menempatkan kebaikan sebagai anugerah ilahi, sementara kejahatan sebagai konsekuensi kelemahan manusia. Ia menulis bahwa manusia tak akan mampu berbuat baik jika tidak digerakkan oleh kehendak-Nya, sementara kejahatan lahir dari ego dan kelalaian manusia itu sendiri.

Pesan ini bukan untuk melemahkan manusia, melainkan mengajak pada kerendahan hati dan rasa syukur, sembari menolak sikap pongah seolah manusia adalah pusat segalanya.

Kritik terhadap Kemegahan Semu

SHE juga mengingatkan tentang kefanaan kemegahan dunia. Menurutnya, setelah kematian, nyaris tak ada yang benar-benar mengingat kejayaan seseorang, kecuali mereka yang memang dikehendaki Tuhan untuk menjadi penanda zaman.

“Jangan pernah sedikitpun terbersit keinginan untuk membangun kemegahan pada dirimu sendiri,” tulisnya, seraya menegaskan bahwa doa orang lain adalah satu-satunya harta yang benar-benar abadi.

Dalam perspektif ini, ukuran keberhasilan hidup tidak lagi diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi seberapa banyak orang yang rela menundukkan kepala mendoakannya setelah ia tiada.

Keberanian Menghantam Diri Sendiri

Menariknya, refleksi ini tidak berhenti pada kritik sosial eksternal. SHE justru menekankan pentingnya keberanian menghantam kemunafikan diri sendiri. Ia mengingatkan agar manusia tidak rajin menilai kesalahan orang lain, namun lupa membersihkan kebusukan batin sendiri.

Pesan ini menjadi relevan di era media sosial, ketika kritik sering kali diarahkan keluar, namun jarang diarahkan ke dalam.

Hormat pada Semua, Dendam pada Tidak Siapapun

Dalam bagian yang sangat humanis, SHE mengingatkan bahwa saat kematian tiba, manusia akan digotong oleh orang-orang yang mungkin tak pernah dikenalnya. Sebuah simbol kuat tentang ketergantungan manusia pada sesama, sekaligus alasan mendasar mengapa dendam dan kebencian tidak layak dipelihara.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa melapangkan hati bukan berarti membungkam suara kebenaran. SHE justru mendorong keberanian untuk bersuara dan melawan kejahatan yang menyengsarakan banyak orang, karena diam adalah bentuk pembiaran yang kelak dipertanggungjawabkan.

Catatan untuk Zaman

Bagi Ifaupdatenews.com, refleksi Saiful Huda Ems ini layak dibaca sebagai catatan moral untuk zaman yang sedang kehilangan arah. Ia bukan khotbah, bukan pula vonis, melainkan ajakan jujur untuk bercermin—tentang hidup, tentang mati, dan tentang apa yang akan kita jawab kelak.

Tulisan ini menempatkan Saiful Huda Ems bukan hanya sebagai penulis reflektif, tetapi sebagai penjaga nurani, yang mengingatkan bahwa akal dan tanggung jawab adalah pembeda manusia dari makhluk lainnya.

Sebuah catatan yang pantas disimpan, direnungkan, dan—jika perlu—mengguncang kesadaran kita semua.

Lebih baru Lebih lama