Ifaupdatenews.com — Pewarta: Ifa
Di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks dan penuh ujian, doa kembali menjadi ruang paling jujur bagi manusia untuk menata batin, meluruskan niat, dan menggantungkan harapan hanya kepada Allah SWT. Hal itulah yang tergambar kuat dalam doa pagi yang dipanjatkan Kang Yudi, sebuah munajat panjang yang sarat makna, ketundukan, dan kesadaran spiritual.
Doa tersebut diawali dengan salam dan pujian kepada Allah SWT, istighfar serta shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Lantunan itu mencerminkan adab seorang hamba sebelum bermunajat, sekaligus pengakuan bahwa setiap langkah hidup membutuhkan ampunan dan syafaat.
Dalam doanya, Kang Yudi mengungkapkan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang kembali dianugerahkan setelah tidur. Ungkapan “Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana” menjadi simbol kesadaran bahwa hidup bukanlah hak, melainkan titipan yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali oleh Sang Pencipta.
Doa tersebut kemudian mengalir pada permohonan akan keberkahan hari, dijauhkan dari kesedihan, diberi kemudahan dalam setiap kesulitan, serta perlindungan dari segala bentuk bencana. Tidak berhenti pada kepentingan pribadi, doa Kang Yudi juga memuat harapan akan keselamatan keluarga, kerabat, sahabat, dan sesama.
Dengan bahasa yang tulus dan mendalam, Kang Yudi memohon agar Allah membukakan pintu karunia seluas-luasnya, menempatkannya pada posisi yang diridhai, serta menganugerahkan surga-Nya. Permohonan akan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima menunjukkan orientasi hidup yang tidak semata duniawi, tetapi berlandaskan nilai akhirat.
Doa itu juga menyentuh dimensi kemanusiaan. Kang Yudi mendoakan saudara dan kerabat yang sedang sakit agar menjadi penggugur dosa, serta mereka yang bersedih agar kesedihannya menghidupkan hati dan jiwa. Sebuah pesan empati yang mencerminkan kepedulian sosial dan kepekaan nurani.
Puncak doa ditandai dengan permohonan husnul khotimah, taubat nasuha sebelum wafat, serta keteguhan hati dalam agama Allah. Doa sapu jagat dan shalawat menutup munajat tersebut dengan harapan agar seluruh permohonan dikabulkan oleh Allah SWT.
Menanggapi doa yang ia panjatkan, Kang Yudi menegaskan bahwa doa tersebut merupakan ikhtiar batin untuk menjaga arah hidup agar tidak terlepas dari nilai iman dan akhlak.
“Doa ini bukan sekadar rutinitas, tapi pengingat bagi diri saya sendiri bahwa hidup ini adalah amanah. Kita boleh sibuk dengan urusan dunia, tapi jangan sampai lupa tujuan akhir kita,” ujar Kang Yudi.
Ia menambahkan, doa menjadi benteng agar hati tetap jernih dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
“Setiap orang pasti diuji dengan caranya masing-masing. Lewat doa, saya belajar untuk tetap sabar, tidak sombong saat lapang, dan tidak putus asa saat sempit. Saya berharap doa ini juga menjadi penguat bagi siapa pun yang membacanya,” lanjutnya.
Menurut Kang Yudi, permohonan husnul khotimah dan taubat nasuha adalah bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia.
“Kita tidak pernah tahu bagaimana akhir hidup kita. Karena itu saya selalu memohon agar Allah menetapkan hati ini di jalan-Nya dan memberikan akhir yang baik,” tutupnya.
Doa Kang Yudi menjadi refleksi bahwa di balik kesibukan dan kerasnya kehidupan, masih ada ruang sunyi tempat manusia menundukkan kepala, merendahkan hati, dan menyerahkan segalanya kepada Allah SWT. Sebuah pesan spiritual yang relevan, menyejukkan, dan layak menjadi pengingat bersama.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. 🤲
