Oleh: Saiful Huda Ems (SHE)
Pewarta: Ifa | Media: Ifaupdatenews.com
Ifaupdatenews.com | Analisis Geopolitik Internasional
Pulau Greenland kembali menjadi sorotan utama dalam dinamika politik global. Bukan semata karena statusnya sebagai pulau terbesar di dunia, melainkan karena posisinya yang kian menentukan arah peta pertahanan, ekonomi, dan keamanan internasional, khususnya bagi Uni Eropa dan aliansi NATO.
Dengan luas wilayah mencapai sekitar 2,16 juta kilometer persegi, Greenland secara geografis jelas merupakan sebuah pulau, bukan benua. Namun dalam konteks geopolitik global, Greenland menjelma menjadi aset strategis bernilai tinggi, sekaligus titik tumpu keseimbangan kekuatan dunia di kawasan Arktik.
Titik Kunci Pertahanan Barat
Letak Greenland yang berada di antara Eropa, Amerika Utara, dan Samudra Arktik menjadikannya simpul strategis jalur militer lintas Atlantik Utara. Sejak era Perang Dingin hingga hari ini, wilayah tersebut berperan vital dalam sistem pertahanan Barat, terutama dalam pengawasan radar, deteksi dini rudal balistik, serta pengamanan ruang udara NATO.
Pangkalan militer Thule Air Base—yang kini dikenal sebagai Pituffik Space Base—merupakan salah satu elemen krusial pertahanan udara dan sistem peringatan dini NATO. Kehilangan kontrol atas Greenland berarti membuka celah besar dalam arsitektur keamanan Eropa dan Atlantik Utara.
Tambang Masa Depan Dunia
Di luar aspek militer, Greenland juga menyimpan kekayaan sumber daya alam strategis yang menjadi rebutan kekuatan besar dunia. Di antaranya adalah rare earth elements (REE) yang sangat dibutuhkan untuk teknologi tinggi, mulai dari kendaraan listrik, semikonduktor, hingga sistem persenjataan modern.
Selain itu, Greenland juga memiliki potensi uranium, minyak dan gas bumi, serta perikanan dalam skala besar. Bagi Uni Eropa, akses terhadap sumber daya ini sangat krusial untuk mengurangi ketergantungan pada China dan Rusia, sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang.
Arktik, Arena Baru Perebutan Pengaruh
Kawasan Arktik kini telah berubah menjadi medan persaingan geopolitik baru. Amerika Serikat, Rusia, dan China secara terbuka meningkatkan kehadiran dan pengaruhnya. Dalam konteks ini, Uni Eropa—melalui Denmark—berkepentingan memastikan Greenland tetap berada dalam orbit Barat.
Secara politik, Greenland memang merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark dan bukan anggota Uni Eropa. Namun relasinya dengan Eropa sangat erat dan strategis. Setiap kemungkinan Greenland merdeka sepenuhnya atau berpindah pengaruh ke kekuatan non-Barat, akan menjadi kerugian geopolitik besar bagi Eropa dan NATO.
Kekhawatiran atas Ambisi Sepihak Amerika Serikat
Sejarah panjang dominasi global Amerika Serikat tidak jarang diwarnai kebijakan sepihak yang mengabaikan kedaulatan negara lain. Intervensi politik, ekonomi, hingga militer AS telah meninggalkan jejak kehancuran di berbagai belahan dunia—mulai dari Asia Tenggara, Timur Tengah, hingga Amerika Latin.
Pengalaman pahit banyak negara tersebut menjadi pelajaran penting bagi Eropa dan NATO. Karena itu, wacana atau ambisi sepihak Amerika Serikat—termasuk isu pencaplokan Greenland—dipandang sebagai ancaman serius terhadap tatanan internasional dan solidaritas aliansi Barat.
Sikap tegas Eropa dan NATO mencerminkan kesadaran baru bahwa kemitraan strategis tidak boleh berubah menjadi dominasi sepihak. Dalam konteks ini, Greenland bukan hanya soal wilayah, melainkan simbol kedaulatan, keseimbangan kekuatan, dan masa depan geopolitik dunia.
Babak Baru Politik Global
Apabila terjadi gesekan serius antara Eropa, NATO, dan Amerika Serikat terkait Greenland, maka dunia akan menyaksikan pergeseran besar dalam peta politik global. Aliansi yang selama puluhan tahun dianggap solid, bisa memasuki fase redefinisi yang menentukan arah sejarah baru hubungan internasional.
Greenland hari ini adalah cermin: siapa menguasainya, ia memegang kunci pertahanan, energi, dan teknologi masa depan. Maka wajar jika pulau es ini menjadi episentrum perebutan pengaruh global.
Sebagaimana pepatah klasik, Sapere aude—beranilah berpikir. Dunia sedang bergerak, dan Greenland berada tepat di pusat pusaran perubahan itu.
12 Januari 2026
Saiful Huda Ems (SHE)
Advokat & Analis Politik
