IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” “Kemaruk Surga”: Kritik Tajam Saiful Huda EMS terhadap Kemunafikan Beragama dan Kejahatan Struktural

“Kemaruk Surga”: Kritik Tajam Saiful Huda EMS terhadap Kemunafikan Beragama dan Kejahatan Struktural


Ifaupdatenews.com | Opini – Analisis Sosial

Di tengah euforia pergantian tahun 2026, suara kritis kembali disuarakan oleh Saiful Huda EMS (SHE) melalui sebuah refleksi tajam berjudul “Kemaruk Surga”. Tulisan ini bukan sekadar renungan keagamaan, melainkan kritik sosial mendalam terhadap praktik keberagamaan yang kehilangan nurani keadilan dan keberpihakan pada kemanusiaan.

Saiful Huda EMS menegaskan bahwa pejabat publik, termasuk mantan pejabat, tidak boleh dibiarkan bebas dari pengawasan publik. Menurutnya, ketika kesalahan, kebodohan, dan kejahatan struktural dibiarkan tanpa kritik, maka praktik tersebut akan terus beranak pinak dan bahkan menjadi contoh buruk yang dianggap wajar di tengah masyarakat.

“Jika kesalahan pejabat tidak ditelanjangi, maka kejahatan akan diwariskan sebagai kebiasaan,” tegas Saiful Huda EMS dalam refleksinya.


Beragama Tidak Cukup dengan Ritual

Dalam tulisannya, Saiful Huda EMS mengkritik keras cara beragama yang hanya berorientasi pada pahala dan kenikmatan surga, namun abai terhadap penderitaan nyata yang terjadi di sekitar. Ia menyebut fenomena ini sebagai “Manusia Kemaruk Surga”, yaitu individu yang mengklaim mencintai Tuhan, tetapi enggan memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Menurutnya, keberagamaan semacam ini kehilangan daya kritis, kehilangan rasionalitas, dan mati rasa terhadap ketidakadilan sosial. Mereka memilih diam, “mingkem”, bahkan ketika kejahatan struktural berlangsung terang-terangan di hadapan mata.

“Beragama harus kritis dan rasional. Jika beragama hanya untuk mengejar surga, sambil membiarkan kezaliman merajalela, maka itu bukan iman, melainkan kepentingan,” tulisnya.


Takut Risiko, Abai Solidaritas

Saiful Huda EMS juga menyoroti watak penakut dan pengecut dari manusia kemaruk surga. Mereka enggan mengambil risiko moral, enggan bersuara, dan tidak memiliki keberanian membela kaum lemah yang teraniaya.

Ironisnya, ketika ada individu atau kelompok yang berani bersuara dan berjuang membela keadilan sosial, justru mereka yang paling lantang mencemooh, bahkan menuduhnya melakukan ghibah atau fitnah.

“Ketika nurani orang lain bergerak melawan ketidakadilan, mereka justru berdiri di barisan penghakim moral palsu,” sindirnya.


Potensi Bahaya bagi Kemanusiaan

Lebih jauh, Saiful Huda EMS mengingatkan bahwa manusia dengan mental kemaruk surga memiliki potensi besar menjadi penjahat kemanusiaan, terutama ketika mereka diberi kekuasaan.

Tanpa kepekaan sosial dan nurani keadilan, kekuasaan hanya akan melahirkan kerakusan, ketamakan, dan perilaku eksploitatif yang jauh lebih kejam daripada iblis itu sendiri.

“Jika manusia seperti itu berkuasa, maka sifatnya akan melampaui setan: serakah, tamak, dan ingin menguasai segalanya,” tulisnya dengan nada peringatan keras.


Refleksi Awal Tahun

Menutup refleksinya, Saiful Huda EMS mengajak publik untuk menjadikan tahun 2026 sebagai momentum memperbaiki kualitas keberagamaan dan kemanusiaan. Bukan sekadar rajin dalam ibadah ritual, tetapi juga konsisten dalam ibadah sosial—membela keadilan, menolak kezaliman, dan berpihak pada mereka yang dilemahkan oleh sistem.

“Kalau hanya beribadah tanpa kepedulian sosial, iblis pun bisa melakukannya,” tutupnya.

Sebuah pesan keras, jujur, dan menggugah—yang layak menjadi bahan refleksi bersama, terutama bagi mereka yang mengaku beragama, berkuasa, dan berperan di ruang publik.


Penulis: Saiful Huda EMS (SHE)

Pewarta: Ifa

Media: Ifaupdatenews.com

Tanggal: 3 Januari 2026


Lebih baru Lebih lama