Ifaupdatenews.com | Nasional
Pewarta: Ifa
Jakarta, 23 Januari 2026
Di tengah hiruk-pikuk politik nasional yang kian kehilangan keheningan moral, sebuah refleksi tajam kembali mengemuka. Refleksi itu bukan sekadar kritik kekuasaan, melainkan panggilan nurani tentang bagaimana kekuasaan seharusnya dijalankan—dengan kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab terhadap rakyat kecil.
Tokoh kritis nasional Saiful Huda Ems (SHE) menghadirkan sebuah potret kontras antara dua figur sentral bangsa: Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo (Jokowi). Sebuah potret yang tidak lahir dari kebencian, melainkan dari kegelisahan intelektual dan keprihatinan moral terhadap arah bangsa.
“Berpikir dan berbuatlah yang baik-baik. Jangan menipu, jangan memanipulasi, jangan mengambil hak orang lain. Hidup yang jujur akan menghadirkan ketenangan, keceriaan, bahkan membuat manusia awet muda,” tegas Saiful Huda Ems dalam pernyataannya.
Megawati dan Keteguhan Membela Kaum Dhuafa
Bagi SHE, Megawati Soekarnoputri bukan sekadar simbol politik, melainkan representasi keberanian historis dalam membela rakyat kecil. Perempuan yang kini memasuki usia 79 tahun itu dinilai konsisten menjaga marwah perjuangan ideologis, terutama dalam membela kaum dhuafa dan mereka yang terpinggirkan oleh sistem.
“Kita doakan Bu Megawati selalu disehatkan dan dipanjangkan usianya. Beliau adalah pemimpin yang berani berdiri di sisi kaum lemah, meski harus berhadapan dengan tekanan kekuasaan,” ujar SHE.
Doa, menurutnya, bukan sekadar ritual spiritual, melainkan cermin dari kualitas jiwa. Mendoakan kebaikan bagi orang yang berjuang untuk rakyat adalah bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Jokowi dan Kritik atas Kerusakan Moral Kekuasaan
Namun nada berbeda disampaikan SHE ketika menyinggung sosok Joko Widodo. Dengan bahasa yang tajam namun tetap dalam koridor moral, SHE menilai Jokowi telah meninggalkan jejak kerusakan, manipulasi, dan pengkhianatan nilai selama berada di puncak kekuasaan.
Meski demikian, kritik itu tidak dibungkus dengan doa keburukan.
“Sebagai sesama umat manusia, kita dilarang mendoakan yang buruk. Saya justru mendoakan Pak Jokowi agar disembuhkan dari penyakitnya, diberi kesadaran, dan keinsyafan untuk mengakhiri kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan,” kata SHE.
Menurutnya, kekayaan yang diperoleh melalui cara-cara zalim dan melanggar hukum bukanlah prestasi, melainkan bentuk kejahatan sosial yang berdampak langsung pada jutaan fakir miskin dan anak-anak terlantar.
“Kembalikan harta yang diperoleh dengan cara tidak sah. Di negeri ini terlalu banyak perut lapar yang menunggu keadilan,” tegasnya.
Seruan Moral: Datang dan Meminta Maaf
Dalam bagian paling reflektif dari pernyataannya, SHE menyerukan agar Jokowi datang menemui Megawati, khususnya di momen ulang tahun ke-79 sang Ketua Umum PDI Perjuangan.
“Datanglah, cium tangannya, dan mintalah maaf secara tulus. Akui bahwa Bu Megawati bukan lawan tandingmu. Beliau perempuan, pemimpin partai terbesar di negeri ini. Membandingkan PDIP dengan PSI ibarat Banteng dan Kelinci,” ucap SHE lugas.
Pernyataan ini bukan sekadar simbol politik, melainkan pesan etis tentang pengakuan, kerendahan hati, dan tanggung jawab sejarah.
Doa, Kekuasaan, dan Masa Depan Bangsa
Di akhir refleksinya, Saiful Huda Ems menegaskan bahwa doa dan kekuasaan memiliki hubungan yang sangat erat. Doa yang baik akan kembali sebagai kebaikan, sementara kejahatan yang dibiarkan akan menjadi beban sejarah.
“Doa adalah cerminan jiwa kita. Jika kita ingin bangsa ini selamat, maka pemimpinnya harus lebih dulu insyaf,” pungkas SHE.
Narasi ini menjadi pengingat bahwa bangsa besar tidak hanya dibangun oleh infrastruktur dan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi oleh kejujuran, keberanian mengakui kesalahan, dan keberpihakan nyata kepada rakyat kecil.
