IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” Waspada Terhadap Ketamakan, Tantangan Besar Kehidupan Modern yang Menggerus Nilai Iman

Waspada Terhadap Ketamakan, Tantangan Besar Kehidupan Modern yang Menggerus Nilai Iman


IfaUpdateNews.com | Pewarta: Ifa

Di tengah dinamika kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, media memiliki peran penting dalam menghadirkan refleksi nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang bersifat universal. Salah satunya adalah peringatan terhadap sikap ketamakan—sebuah persoalan batin yang kerap luput disadari, namun berdampak besar bagi kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual manusia lintas iman.

Di tengah arus kehidupan modern yang ditandai oleh persaingan, materialisme, dan pencapaian duniawi, manusia kerap dihadapkan pada satu musuh lama yang terus berulang dalam berbagai rupa: ketamakan. Sebuah sikap batin yang sering dianggap sepele, namun sesungguhnya memiliki daya rusak yang sangat dalam terhadap iman, relasi sosial, bahkan makna hidup itu sendiri.

Yesus Kristus telah jauh hari mengingatkan umat manusia akan bahaya ini. Dalam Injil Lukas 12:15, Yesus menegaskan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu.” Sebuah peringatan yang tidak hanya bersifat rohani, tetapi juga relevan secara sosial hingga hari ini.

Ketamakan, dalam perspektif iman Kristen, bukan sekadar soal memiliki banyak harta, melainkan keinginan berlebihan untuk menguasai apa yang bukan menjadi bagian kita, termasuk iri hati terhadap milik sesama. Bahkan, dalam Sepuluh Perintah Allah, larangan “jangan mengingini” (Keluaran 20:17) menjadi akar dari banyak pelanggaran moral lainnya.

Dalam kisah yang disampaikan Yesus tentang seorang yang mempersoalkan warisan keluarganya, terlihat jelas bagaimana ketamakan dapat membutakan hati. Orang tersebut hadir secara fisik di hadapan Sang Juruselamat, namun pikirannya terikat penuh pada harta dunia. Ia gagal menangkap pesan pembebasan yang disampaikan Yesus, karena hatinya telah dikuasai oleh keinginan materi.

Rasul Paulus bahkan menyebut ketamakan sebagai bentuk lain dari penyembahan berhala (Kolose 3:5). Istilah yang keras, namun mencerminkan betapa seriusnya dampak sikap ini. Ketika harta menjadi pusat hidup, maka Tuhan perlahan tersingkir dari takhta hati manusia.

Menanggapi fenomena ini, Gultomedward, pemerhati kehidupan rohani dan sosial, menyampaikan pandangannya secara tegas dan reflektif.

“Ketamakan adalah penyakit batin yang sering tidak disadari, namun dampaknya sangat luas. Ia merusak sukacita, memutus rasa syukur, dan menjauhkan manusia dari Tuhan. Ketika harta menjadi tujuan utama, maka iman hanya akan menjadi pelengkap, bukan pusat kehidupan,” ujar Gultomedward kepada IfaUpdateNews.com.

Ia menegaskan bahwa iman yang sehat selalu ditandai dengan sikap cukup dan mau berbagi, bukan mengumpulkan tanpa batas.

“Kita tidak mungkin hidup dalam ketamakan dan pada saat yang sama menikmati sukacita sejati. Alkitab mengajarkan bahwa harta adalah alat untuk memuliakan Tuhan, bukan tuan yang menguasai hidup manusia,” tambahnya.

Gultomedward juga mengajak umat untuk kembali pada esensi panggilan iman: melayani Tuhan dengan seluruh aspek kehidupan, termasuk harta benda.

“Muliakan Tuhan dengan hartamu. Bukan soal besar atau kecilnya jumlah, tetapi sikap hati yang taat, tulus, dan penuh kasih. Di situlah letak kemerdekaan sejati,” tutupnya.

Pesan ini menjadi refleksi penting bagi masyarakat luas, khususnya di tengah situasi ekonomi yang menekan dan budaya pamer yang semakin menguat. Ketamakan tidak pernah membawa kedamaian; sebaliknya, ia menciptakan kecemasan yang tak berujung.

Sebagaimana peringatan Yesus, hidup manusia tidak diukur dari kelimpahan harta, melainkan dari relasi yang benar dengan Tuhan dan sesama. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap ketamakan bukan sekadar nasihat rohani, melainkan kebutuhan mendasar agar manusia tetap hidup dalam sukacita, iman, dan makna sejati.

“Kita tidak dapat bersikap tamak dan bersukacita pada saat yang bersamaan. Layanilah Tuhan dengan hartamu.”

Catatan Redaksi

Redaksi IfaUpdateNews.com menegaskan bahwa pemberitaan ini disajikan dalam semangat jurnalisme inklusif dan toleran, dengan tujuan mengangkat nilai-nilai moral universal yang relevan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun keyakinan.

Pesan kewaspadaan terhadap ketamakan merupakan refleksi etika kehidupan yang diajarkan oleh berbagai ajaran agama dan nilai kemanusiaan. Dalam konteks ini, media hadir sebagai ruang dialog yang sehat, edukatif, dan membangun kesadaran bersama akan pentingnya integritas, kesederhanaan, serta tanggung jawab sosial.

Pewarta dalam pemberitaan ini menjalankan tugas jurnalistik secara netral dan profesional, sementara pandangan keimanan sepenuhnya merupakan pernyataan narasumber sebagai bagian dari kebebasan berekspresi dan hak berpendapat.

IfaUpdateNews.com berkomitmen untuk terus menghadirkan informasi yang mencerahkan, berimbang, dan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman bangsa.

Penutup Editorial

Perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk saling belajar tentang nilai kebaikan. Justru dari keberagaman itulah, pesan-pesan luhur tentang kemanusiaan menemukan maknanya yang paling utuh.

Selamat beraktivitas. Tuhan memberkati. 🙏

Lebih baru Lebih lama