IFA UPDATE NEWS.COM “AKURAT, TAJAM, SESUAI FAKTA.” Menghidupkan Politik Nurani: Strategi Hanura Menyongsong Pemilu 2029

Menghidupkan Politik Nurani: Strategi Hanura Menyongsong Pemilu 2029


Ifaupdatenews.com – Pewarta: Ifa

Pemilu 2029 memang masih berada di kejauhan. Namun bagi partai politik, periode lima tahun ke depan justru menjadi fase paling menentukan untuk menata ulang arah perjuangan dan memperkuat fondasi organisasi. Kontestasi mendatang tidak lagi semata ditentukan oleh popularitas figur, melainkan oleh konsistensi gagasan serta kemampuan partai membangun kepercayaan publik.

Pengamat politik Jawa Timur, Dr. Ahmad Fikri, menilai bahwa partai yang mulai bekerja sejak dini akan memiliki keuntungan strategis.

“Pemilu sekarang bukan lagi soal siapa paling terkenal, tapi siapa yang paling konsisten bekerja dan dipercaya. Partai yang menata struktur sejak awal biasanya lebih siap menghadapi dinamika politik,” ujarnya kepada Ifaupdatenews.com.

Dalam konteks tersebut, Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menghadapi momentum penting untuk menentukan arah langkah politiknya. Target peningkatan kursi legislatif dari 27 menjadi 62 dipandang sebagai sinyal bahwa Hanura tidak ingin sekadar bertahan, melainkan berupaya melompat menjadi kekuatan politik yang lebih signifikan.

Namun, ambisi tersebut tentu menuntut kerja nyata. Penguatan organisasi dan pembentukan basis sosial di akar rumput menjadi dua prasyarat utama. Struktur partai dituntut tidak lagi bersifat administratif, tetapi benar-benar menjadi ruang kaderisasi yang hidup.


“Struktur partai itu bukan papan nama. Ia harus menjadi rumah kader, tempat nilai dan loyalitas tumbuh,” ungkap salah satu kader Hanura Jawa Timur yang enggan disebutkan namanya.

Kader yang tumbuh dari bawah diyakini memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat. Mereka bukan hanya penggerak mesin politik, tetapi juga penyambung aspirasi rakyat. Tanpa kerja berjenjang dan disiplin organisasi, setiap target elektoral berpotensi kehilangan makna substantif.

Membaca Karakter Politik Jawa Timur

Jawa Timur dikenal sebagai wilayah dengan karakter politik yang kompleks. Dari 14 daerah pemilihan provinsi hingga 38 kabupaten dan kota, setiap wilayah memiliki kecenderungan politik yang berbeda.

Wilayah Tapal Kuda dengan basis religius yang kuat, kawasan Mataraman yang cenderung nasionalis, hingga daerah urban seperti Surabaya dan Sidoarjo yang rasional dan modern, menuntut pendekatan yang tidak seragam.

Menurut Dr. Ahmad Fikri, keberhasilan partai di Jawa Timur sangat bergantung pada kepekaan membaca karakter pemilih.

“Pemilih Jawa Timur itu kritis. Mereka menghargai kejujuran dan kerja nyata. Janji besar tanpa bukti justru mudah ditinggalkan,” katanya.

Dalam situasi tersebut, pesan politik yang menyentuh nurani dinilai lebih efektif dibanding retorika yang berlebihan. Politik berbasis empati memiliki peluang besar untuk diterima, terlebih di tengah kejenuhan publik terhadap gaya politik elitis.

Ruang di Tengah Dominasi Partai Besar

Dominasi PDIP, PKB, dan Gerindra di Jawa Timur masih terlihat kuat. Namun di balik dominasi itu, terdapat ruang yang bisa diisi oleh partai lain, khususnya dari kelompok pemilih yang belum menentukan pilihan atau merasa kecewa dengan praktik politik transaksional.

“Selalu ada pemilih yang mencari alternatif. Mereka tidak mencari partai yang paling keras, tapi yang paling konsisten dan bersih,” ujar kader Hanura tersebut.

Dengan menampilkan citra partai yang konsisten dan berorientasi pada nilai moral, Hanura dinilai memiliki peluang menembus sekat partai menengah. Peran sebagai penyeimbang yang jujur dan berani menjaga etika politik dinilai relevan di tengah dinamika kekuasaan.

Kaderisasi dan Kerja Nyata

Kemenangan politik diyakini tidak lahir secara instan. Ia dibangun melalui kader yang aktif dan jaringan yang bekerja nyata. Struktur partai di setiap tingkatan dituntut mampu bergerak taktis dan responsif terhadap persoalan masyarakat.

Calon legislatif, menurut pengamat, perlu disiapkan tidak hanya secara elektoral, tetapi juga secara ideologis.

“Figur yang dikenal karena kerja sosial dan kehadiran nyata jauh lebih dipercaya dibanding kandidat instan,” kata Dr. Ahmad Fikri.

Selain itu, komunikasi publik yang santun dan membumi dinilai menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan masyarakat yang mulai pudar.

Peta Jalan Menuju 2029

Tahapan kerja menuju Pemilu 2029 dinilai harus terukur. Periode 2025–2026 diarahkan pada konsolidasi struktur dan pembenahan kader. Tahun 2027–2028 menjadi masa ekspansi jaringan dan seleksi calon legislatif berkualitas. Sedangkan 2029 menjadi momentum evaluasi hasil kerja panjang.

“Kepercayaan tidak dibangun dalam satu musim. Ia lahir dari konsistensi,” tegas pengamat tersebut.

Politik yang Berbasis Nurani

Makna “hati nurani” yang melekat pada nama Hanura dinilai sebagai kekuatan moral yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Ketika banyak partai berlomba memperkuat modal dan pencitraan, politik yang mendengar dan melayani justru menjadi pembeda.

Pemilu 2029 bukan sekadar perebutan kursi, tetapi ujian integritas bagi seluruh partai politik. Bagi Hanura, ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa politik masih dapat dijalankan secara manusiawi dan berlandaskan ketulusan.

“Di tengah kebisingan politik, suara yang paling didengar rakyat adalah kejujuran,” pungkas Dr. Ahmad Fikri.

Catatan Redaksi:

Pernyataan dalam laporan ini dirangkum berdasarkan pandangan sejumlah pengamat dan kader internal Partai Hanura di Jawa Timur yang disampaikan dalam diskusi dan komunikasi terbatas. Redaksi tidak menyebutkan identitas narasumber secara rinci demi menjaga independensi serta menghindari politisasi personal.

Lebih baru Lebih lama