Oleh: Ifa | Pewarta Ifaupdatenews.com
Jakarta, 9 Februari 2026
Pengamat politik dan praktisi hukum Saiful Huda Ems (SHE) melontarkan kritik keras terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Dalam pernyataan panjang dan bernada tegas yang diterima redaksi Ifaupdatenews.com, SHE menyebut Jokowi bukanlah sosok jenius politik seperti yang selama ini dibangun melalui narasi publik, melainkan figur yang menurutnya mahir memanipulasi kekuasaan, melakukan pencitraan, serta mempraktikkan penyalahgunaan wewenang secara sistematis.
“Berhentilah memuji Jokowi sebagai ahli catur politik. Ia bukan ahli strategi, melainkan ahli manipulasi dan pendustaan politik,” tegas Saiful Huda Ems dalam pernyataannya, Senin (9/2).
Menurut SHE, fakta bahwa Jokowi pernah menjabat sebagai Wali Kota Solo, Gubernur DKI Jakarta, hingga Presiden dua periode—bahkan mampu mengantarkan anak dan menantunya ke posisi strategis negara—bukanlah bukti kecerdasan politik substantif, melainkan indikasi kuat dari praktik kekuasaan yang sarat rekayasa dan penyimpangan etika demokrasi.
“Kalau ada yang menyebut Jokowi jago taktik dan strategi politik, itu keliru besar. Modal utamanya bukan kecerdasan berpikir, tapi kepiawaian memanipulasi persepsi publik dan jaringan kekuasaan,” ujarnya.
Bukan Dendam Politik, Tapi Sikap Kritis
Saiful menegaskan kritiknya tidak dilandasi motif pribadi, kepentingan politik, apalagi ambisi jabatan. Ia menyebut dirinya hanya rakyat biasa yang kebetulan telah lebih dari 35 tahun menekuni dunia politik sebagai pengamat dan praktisi hukum, baik di dalam maupun luar negeri.
“Saya tidak pernah bersaing dengan Jokowi, tidak pernah berharap jabatan, dan tidak punya urusan pribadi dengannya. Ini murni sikap kritis terhadap praktik kekuasaan yang membahayakan masa depan bangsa,” kata SHE.
Ia juga menepis anggapan bahwa kritiknya bersumber dari sakit hati atau kegagalan politik. Menurutnya, justru diam terhadap penyimpangan kekuasaan adalah bentuk ketidaknetralan yang sesungguhnya.
Kritik Terhadap Pencitraan dan Minimnya Gagasan
Dalam pernyataannya, SHE menyebut Jokowi tidak memiliki gagasan orisinal yang kuat untuk membangun bangsa. Ia bahkan menyindir kemampuan intelektual Jokowi dalam membaca dan berdiskusi soal pemikiran besar dunia.
“Politik itu ilmu. Ia butuh ketekunan membaca, diskusi panjang, dan proses mengorganisir gagasan bertahun-tahun. Jokowi tidak melalui itu semua. Ia lahir dari pencitraan dan ditopang oleh kekuatan partai,” ujarnya.
Saiful juga menyinggung peran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang menurutnya menjadi faktor kunci yang mengangkat Jokowi ke panggung nasional.
“Tanpa Megawati dan PDIP, Jokowi itu tidak ada apa-apanya. Membayangkan ia menjadi pemimpin besar tanpa itu, seperti kodok merindukan martabak,” sindirnya tajam.
Soal Netralitas dan Ancaman Demokrasi
Menanggapi desakan sebagian pihak agar dirinya bersikap netral, Saiful justru balik mempertanyakan makna netralitas yang dimaksud.
“Netral versi mereka itu artinya diam. Diam ketika kekuasaan disalahgunakan. Diam ketika hukum dipermainkan. Itu bukan netral, itu pembiaran,” tegasnya.
Baginya, netralitas sejati adalah keberanian menyatakan yang benar sebagai benar, dan yang salah sebagai salah, tanpa takut tekanan kekuasaan maupun stigma politik.
Peringatan Keras untuk Masa Depan Bangsa
Di akhir pernyataannya, Saiful Huda Ems menyampaikan peringatan keras. Ia menyebut persoalan terbesar bangsa saat ini masih berkutat pada warisan kekuasaan Jokowi dan jejaring politik yang ditinggalkannya.
“Kalau kekuasaan semacam ini terus dilindungi, maka risikonya akan ditanggung oleh pemimpin berikutnya. Sejarah mencatat, kekuasaan yang abai pada keadilan selalu berujung pada perlawanan,” ujarnya.
Meski demikian, pernyataan SHE lebih menekankan peringatan moral dan politik ketimbang seruan tindakan, dengan menegaskan bahwa perubahan besar dalam sejarah bangsa kerap lahir dari akumulasi ketidakadilan yang dibiarkan terlalu lama.
“Cepat atau lambat, perubahan pasti datang. Itu hukum sejarah,” pungkasnya.
🖊️ Catatan Redaksi:
Pernyataan Saiful Huda Ems merupakan pandangan pribadi narasumber. Ifaupdatenews.com menjunjung tinggi prinsip keberimbangan dan membuka ruang hak jawab bagi pihak-pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini.
