Oleh: Ifa – Ifaupdatenews.com
JAWA BARAT— Di tengah derasnya arus informasi dan memanasnya perdebatan publik di media sosial, suara penyejuk kembali datang dari Saiful Huda Ems (SHE). Melalui sebuah pesan reflektif yang ditujukan kepada sahabat-sahabat media sosial, SHE menyampaikan seruan moral yang tegas, bernas, dan sarat nilai kebangsaan: berbeda pendapat adalah keniscayaan demokrasi, tetapi adab dan etika harus tetap dijaga.
Dalam pesannya, Saiful Huda Ems menekankan pentingnya membedakan antara bahasa keras dan bahasa kasar. Kritik, menurutnya, boleh dan bahkan harus disampaikan secara tegas, namun tidak boleh kehilangan kendali hingga berubah menjadi ujaran kebencian, caci maki, atau serangan personal yang mencederai persaudaraan sesama anak bangsa.
“Diskusi yang sehat lahir dari pikiran yang jernih, bukan dari emosi yang meledak-ledak,” demikian substansi pesan SHE yang kini mendapat perhatian luas di ruang publik digital.
Ia mengingatkan bahwa media sosial sejatinya adalah ruang dialektika, bukan arena perkelahian. Tulisan-tulisannya, kata SHE, kerap dimaksudkan untuk menstimulus diskusi kritis demi kepentingan bersama, bukan untuk memicu konflik horizontal antarsesama rakyat.
Lebih jauh, Saiful Huda Ems menggarisbawahi posisi rakyat sebagai satu kesatuan. Perbedaan pandangan politik, sikap terhadap kebijakan, atau penilaian terhadap pejabat negara tidak seharusnya menjadikan sesama warga berubah “bengis dan buas”, seolah lupa bahwa yang dihadapi adalah saudara sebangsa dan setanah air.
Namun demikian, SHE juga menegaskan garis tegas yang tidak boleh dikaburkan: kritik keras terhadap pejabat negara yang korup, sewenang-wenang, dan merugikan rakyat adalah kewajiban moral. Bahkan, menurutnya, jika diperlukan, kritik tersebut harus diperjuangkan hingga pelaku penyimpangan hukum mendapatkan hukuman setimpal sesuai perbuatannya.
“Negara ini tidak boleh abai terhadap jutaan rakyat kecil yang hidup dalam kesusahan,” tegasnya, seraya mengingatkan bahwa kekuasaan sejatinya adalah amanah, bukan alat penindasan.
Pesan ini sekaligus menjadi kritik sosial yang tajam terhadap realitas politik dan pemerintahan, namun disampaikan dengan bahasa yang berimbang—keras pada sasaran, lembut pada sesama rakyat. Sebuah sikap yang mencerminkan kematangan berpikir dan kedewasaan berbangsa.
Menutup pesannya, Saiful Huda Ems menyampaikan refleksi spiritual yang menyentuh. Ia mengajak semua pihak untuk merenungi keterbatasan usia dan waktu hidup, seraya memohon bimbingan serta perlindungan Tuhan agar perjuangan membela bangsa dan negara tetap berada di jalan yang lurus, bersih dari pengkhianatan terhadap rakyat dan nilai keadilan.
Dengan kerendahan hati, SHE juga menyampaikan permohonan maaf kepada siapa pun yang mungkin pernah tersakiti, baik secara sengaja maupun tidak. Sebuah penutup yang menegaskan bahwa keberanian bersuara harus selalu berjalan seiring dengan keikhlasan dan introspeksi diri.
Pesan Saiful Huda Ems ini menjadi pengingat penting di era demokrasi digital: berani berpikir kritis tanpa kehilangan adab, keras melawan ketidakadilan tanpa memutus tali persaudaraan, dan setia pada kebenaran tanpa menanggalkan nilai kemanusiaan.
Sebuah seruan yang layak direnungkan oleh seluruh rakyat Indonesia—khususnya para pengguna media sosial—agar ruang publik tetap menjadi medan pertarungan gagasan, bukan ladang permusuhan.
Ifaupdatenews.com
Pewarta: Ifa
